Goa-goa di Kabupaten Pacitan

Batu-batu Bernyanyi, Di Kampung SBY

Saking banyaknya goa di wilayah Pacitan, daerah ini pun mendapat julukan sebagai negeri seribu goa. Tidak hanya indah, tapi unik sekaiigus misterius. Jalan menuju Pacitan tidak seberapa lebar, dan berada di sisi tebing yang rawan longsor. Beberapa kali, mobil yang ditumpangi harus berhenti untuk berbagi jalan dengan bus atau truk dari arah berlawanan. Kami memang harus ekstra hati-hati, karena jalanan sangat berliku. Total ada sekitar 300 tikungan naik maupun menurun. Pacitan yang berjarak 297 kilo­meter arah barat Surabaya dan 60 kilometer arah timur Solo merupa- kan salah satu dari delapan daerah tertinggal di Jawa Timur. Namun di tempat ini terdapat lebih dari 300 gunung kecil yang di perutnya ter­dapat goa-goa. Sdking banyaknya, pemerintah daerah menyebut Paci­tan sebagai Negeri Seribu Goa. Goa-goa ini pula yang menjadi andalan pariwisati Pacitan. Goa Gong adalah salah satu goa andalan pariwisata Pacitan. Goa Gong terletak di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, 37 kilometer ke arah barat Kota Pacitan. Di goa ini terdapat stalaktit, batuan kapur berbentuk kerucut di langit-langit goa, dan stalagmit, batuan kapur yang berdiri tegak di dasar yang telah berusia ratusan tahun. Banyak di antaranya menyerupai area dalam berbagai bentuk yang mirip sekali dengan buatan para pemahat masa kini. Padahal semua itu terjadi secara alami. Stalaktit dan stalagmit itu ba­nyak juga yang menyatu dan mem- bentuk pilar-pilar yang menyerupai tiang pada sebuah bangunan Ghotic.  Goa yang pa­ling indah di Asia Tenggara,” tutur  salah seorang pemandu pengunjung di Goa Gong. Fasilitas goa ini sudah sangat mendukung. Pemerintah sudah membangun jalur untuk wiSatawan dan lampu-lampu penerang serta beberapa buah kipas angina berukuran besar di dalam goa. Namun ada baiknya, jika memasuki goa membawa senter untuk jaga-jaga, yang biasa disewakan di pintu masuk goa dengan tarif Rp. 2.000 per senter. Setidaknya, ketika lampu- lampu penerang goa tiba-tiba padam, Anda tidak terlalu kebingungan. Dan, hal inilah yang dialami LIBERTY ketika menyusuri Goa Gong. Belum mencapai setengah perjalanan, lampu penerang tiba-tiba padam. Beruntung, pemandu yang mengiringi LIBERTY membekali dirinya dengan senter. “Di sini memang sering mati lampu, kadang lama, tapi kadang Cuma sebentar,” tutur Supatmi dengan nada datar tanpa rasa khawatir apa pun berada dalam gua yang saat itu begitu pekat gelap gulita. Sambil terns berjalan Patmi bercerita jika nama Goa Gong diambil dari nama bukit tempat goa itu berada. “Dulu sebe- lum goa ini ramai dikunjugi orang, dari dalam goa ini sering terdengar bunyi gamelan lengkap, hampir terjadi pada setiap tengah malam. Kadang seperti gamelan wayang kulit, kadang juga ter­dengar seperti gamelan pengiring reog. Namun sekarang sudah tidak lagi ter­dengar bunyi-bunyi misterius itu,” papar Patmi, sambil menambahkan jika bunyi mirip suara gong juga kerap sekali ter­dengar dan gaungnya panjang sekali. Masih menurut cerita Patmi, .berdasarkan penuturan orang-orang, dulu sering juga terdengar bunyi-bunyi- an seperti irama gambus. Dan, pada hari-hari tertentu terdengar bunyi tangisan perempuan yang sangat memilukan dan menyayat hati. “Namun semenjak tempat ini dibuka menjadi areal wisata dan banyak dikunjungi orang suara-suara aneh itu tak pernah lagi muncul,” lanjut Patmi. Bukan hanya keindahan stalaktit dan stalagmit, pengunjung Goa Gong juga bisa mencoba mencicipf tuah beberapa sendang yang ada di dalam Goa Gong. Ada sekitar enam buah sendang yang letaknya saling berdekatan. Uniknya meski berdekatan, sendang-sendang itu dipercaya memiliki tuah khasiat yang berbeda-beda. Ada Sendang Junjung Drajat yang konon dipercaya bisa untuk memuluskan karier, ada Sendang Larung Nisto yang’dipercaya bisa untuk membuang sial, serta Sendang Kantil yang dipercaya bisa menjadikan seseorang enteng jodoh. Goa yang benar-benar bisa untuk bermain musik adalah Goa Tabuhan yang terietak di sebelah utara Goa Gong. Di goa ini terdapat stalaktit yang bisa mengeluarkan suara merdu saat dipukul. Keindahan suara stalakatit di goa ini bisa dimanfaatkan penduduk setempat sebagai atraksi untuk pengun­jung. Jika ingin mendengar pemusik setempat memainan musik dari stalaktit, pengunjung bisa membayar Rp. 40 ribu untuk lima lagu. Sayangnya, di dalam Goa Tabuhan masih belum terdap­at penerang yang memadai, jadi pengunjung harus menyewa lampu-lampu petromaks untuk bisa menikmati keindahan Goa Tabuhan. Goa tabuhan ternyata menyimpan cerita sejarah yang cukup panjang. Konon, tempat ini dulu dipakai oleh Raden Mas Banteng Wereng, salah seorang keturunan Sultan Hamengku- bowono I, untuk menempa prajurit-prajurit handal yang kelak diperbantukan kepada Raden Mas Said Samber Nyawa untuk menumpas kekuasaan kompeni. Tidak hanya itu, para prajurit binaan Banteng Wereng, konon juga membantu perang-perang yang dilakukan oleh Banteng Wereng. “Semua pasukannya digembleng di gua tabuhan ini,” tutur Suwardi (42), penduduk seki­tar Goa Tabuhan. Karena latar belakang cerita yang demikian itulah awalnya goa tabuhan ini biasa disebut sebagai Goa Tapan, karena menjadi tempat bertapa prajurit-prajuirt Banteng Wereng. Yang tak kalah uniknya, adalah keberadaan sebuah pohon besar di depan goa yang oleh penduduk setempat dinamai ‘Dhanyangan Gedhong’, yang menurut cerita merupakan perwujudan dua orang sakti yang sampyuh saat bertempur di jaman dulu kala. Ada satu goa yang terletak di antara Goa Gong dan Goa Tabuhan, yaitu Goa Putri. Sayangnya goa ini tidak terawat keberadaannya. Pengunjung yang ingin masuk harus membawa senter sendiri. Punggung juga harus disiapkan k’arena jalan masuk goa hanya setinggi 1,5 meter. Ada pendapat unik tentang kondisi Goa Putri yang tidak terawat ini, yakni mengatakan bahwa Goa Putri telah kehilangan aura pengasihan karena diambil oleh salah seorang pejabat. “Dulu pejabat itu bertapa di sini dalam kurun waktu yang cukup lama, hingga akhirnya bisa memperoleh aura penga­sihan dan terbukti kedudukannya bisa bertahan hinga kini. Sejak itulah goa ini tidak menarik lagi bagi orang-orang yang ingin mengunjunginya,” papar Suwardi. Pacitan juga memiliki goa yang diperuntukkan untuk kalangan tertentu saja. Para arkeolog bisa mengunjungi Song Terus, goa berupa lorong yang menembus punggung bukit. Di goa itu, diperkirakan terdapat peningglan homo sapiens. Para petualang juga bisa menikmati susur goa vertikal, antara lain luweng jaran dan luweng ombo. Jika berniat mengujungi tempat ini sebaiknya mempersiapkan oksigen, penerangan, tali, dan peralatan susur goa lainnya sendiri. Di Pacitan, perala­tan itu belum ada yang menyewakan. Oleh-oleh utama dari Pacitan adalah aneka kerajinan batu akik. Pusat kerajinan batu akik terletak di utara Goa Tabuhan, tepatnya di Kecamatan Donorojo. Kita bisa memilih membeli di rumah perajin atau di toka-toko kecil di sekitarnya. Jika membeli di rumah perajin, kita bisa secara langsung melihat pro­ses pengolahan akik. Bahkan, jika beruntung bisa mencoba mengolah sendiri akik sesuai dengan keinginan meskipun hasilnya belum tentu sebagus bikinan perajinnya yang asli. ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2267, 1-10 MEI 2008, hlm. 48-51

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Goa-goa di Kabupaten Pacitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s