Keripik Apel Batu

Menolak Pesanan Keripik Curah dari Malaysia.

Jika musim panen, umumnya produk pertanian kita banyak yang tidak terserap pasar, akhirnya membusuk. Langkah solutif adalah diversifikasi, keripik adalah salah satunya.

keripik-apel-batu003Keripik salak, keripik apel atau keripik rambutan. Mungkin nama atau jenis makan ringan ini masih asing di telinga masyarakat. Orang lebih mengenal dan akrab dengan keripik singkong atau pisang daripada keripik salak atau apel.

Sebetulnya Balitbang Jatim beberapa kali bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk melakukan diversifikasi buah-buahan. Salah satunya bekerjasama dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tentang pengembangan budidaya salak Madura melalui diversifikasi produk,di antaranya olahan keripik.

Disebutkan bahwa salak merupakan salah satu buah tropis yang sangat digemari karena rasanya yang khas . Di Madura,

salah satu jenis salak yang terkenal adalah salak Bangkalan. Komoditas ini di saat panen raya, bila tidak terserap pasar, dalam tempo 5 sampai 7 hari akan membusuk, kecuali bila ada penanganan khusus.

keripik-apel-batu002Untuk mengatasi persoalan kelebihan produksi , maka diperlukan teknik pengawetan buah, yaitu teknik pengolahan buah segar menjadi kripik salak. Penggorengan buah salak segar dilakukan pada alat penggorengan hampa udara. Buah yang akan digoreng terlebih dulu dikupas dan direbus dalam air : mendidih selama 1 menit, kemudian diangkat dan ditiriskan. Selanjutnya direndam dalam larutan natrium bikarbonat (soda kue) dengan perbandingan 1 gr untuk tiap kilogram buah salak yang direndarn dalarn satu liter air. Lama perendaman sekitar 30 sarnpai 60 rnenit. Setelah direnda buah salak dicuci dan ditiri skan. Langkah berikutnya buah salak tersebut dirnasukkan ke dalarn freezer sarnpai rnernbeku. Dalarn keadaan. rnembeku , buah salak digoreng dengan teknik penggorengan hampa udara sarnpai rnasak, sekitar 1 jam penggorengan.

Pembekuan dalarn freezer dirnaksudkan untuk menjaga agar tekstur keripik salak tidak rusak, dan tetap sarna dengan tekstur buah salak segar. Penggorengan dilakukan dalarn keadaan vakum untuk rnernperoleh hasil yang rnasak, kering namun berpenarnpilan menarik.

Keripik Produksi Kadir

Melalui teknik yang harnpir sarna H.M. Kadir, pelopor hortikultura di Batu, sejak tahun 1999 telah memproduksi kripik salak, apel, rambutan dan kesemek. Hampir setiap hari elpiji untuk alat penggoreng atau vacuum friying  terdengar mendesis dari rumahnya di Dusun Gondang, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Batu.

Dikatakan oleh pendiri dan pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Pelestarian Swadaya (P4S) Tulung Karya llll, produk keripiknya yang dikemas dengan rnerek Ika Sari tersebut dipasarkan ke Jakarta, Bali, Batam dan Bandung. Kata Kadir, yang memasarkan produknya adalah tengkulak. ” Saya membuat berdasarkan pesanan. Ini untuk menghindari risiko,” katanya pada Teropong.

Sedangkan keripik Ika Sari yang dikemas dalam plastik tebal itu dijual dengan harga Rp 6000 per ons untuk keripik salak, nanas, kesemek dan rambutan.

Sedangkan untuk keripik apel dijual Rp 7.500 per ons atau Rp 60 ribu per kg-nya. Perbandingannya, 7 kg buah segar  setelah menjadi keripik susut menjadi 1 kg lebih 1 ons.

Buah-buah itu, lanjut Kadir, diperoleh dari Malang (salak), Blitar (nenas dan rambutan) dan Batu (kesemek, apel). Ia memproduksi masing-masing jenis keripik berdasarkan pesanan. “Kalau pesanannya keripik salak, maka saya bikin keripik salak. Tapi biasanya saya membikinnya berganti-ganti tiap dua hari sekali,” kata Kadir.

Sedangkan untuk keripik apel, . Kadir menggunakan bahan baku keripik apel jenis manalagi. Alasannya, apel manalagi rasanya manis sehingga enak dibuat keripik. Saat ini harga ape! turun drastis. Di tingkat petani harga buah apel, khususnya manalagi, per kg-nya Rp 3000.

Untuk membuat keripik apel, untuk 7 kg buah apel sedikitnya membutuhkan waktu 3 jam. Di antaranya memerlukan waktu 1 jam untuk mengupas dan memotong, kemudian penggorengan 2 jam. Sehari-hari Kadir mempekerjakan dua orang. Kadir investasi alat kerja sebesar Rp 20 juta.

 

Keripik Apel Curah

Sementara itu Hari Kadaryanto, Ketua Koperasi Pertanian Bumiaji, Batu, mengatakan, sejauh ini buyer asal Malaysia meminta pengiriman keripik apel dalam bentuk curah. Permintaan itu berkisar 5 s.d. 10 ton per bulannya. Tetapi kalangan produsen enggan memenuhi permintaan tersebut karena khawatir dipatenkan.

Kata Hari, beberapa waktu lalu pedagang asal Malaysia mendatangi sentra industri kecil keripik apel di Batu setelah memperoleh informasi dari Depperindag. “Pedagang Malaysia itu membutuhkanpasokan keripik apel berkisar 5 s/d 10 ton per bulan dengan harga Rp 110.000 per kg, tetapi perajin keripik enggan memenuhi permintaan tersebut karena khawatir dipatenkan, sebab mereka memesan keripik curah tanpa merek,” ujarnya ketika ditemui Teropong.

Selain itu, lanjut Hari, produsen keripik apel di Batu khawatir tidak mampu memenuhi pesanan sesuai volume yang didasarkan kontrak. Masalahnya, day a serap keripik apel di pasar domestik cukup tinggi, sementara kapasitas produksinya masih terbatas.

Areal tanaman apel di kawasan Batu , yang terdiri atas tiga kecamatan, menurut Hari seluas 1.700 hektar dengan produksi 10-15 ton/hektar per tahun (dua kali panen) . Jenis apel yang dibudidayakan di kawasan tersebut mencakup room beauty, anna dan manalagi. (bud)

Teropong , Edisi 16, Maret – April 2004, hlm. 45

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Keripik Apel Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s