Sari Tebu Rasa Herbal, Surabaya

SABUSabu Sahe, Sari Tebu Rasa Herbal, Mereka menyebut minuman yang dikemas dalam plastik kecil itu dengan nama Sabu Sahe, kependekan dari sari tebu rasa herbal. Minuman ini berhasil lolos prog­ram kreativitas mahasiswa bidang kewirausahaan (PKM-K) yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tmggi (Dikti). Ada tiga macam rasa yang dicip­takan, yakni rasa kedelai, jahe merah.

Minuman sari tebu atau sari kedelai sudah umum dikonsumsi. Tetapi sari tebu yang dicampur sari kedelai, jahe mierah atau temulawak mungkin baru ada di Surabaya. Minuman herbal ini diciptakan empat mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Bhayangkara Surabaya, Haris Setyawan, Refi Yunita Fajrin, Sarlinda Wiyanti N dan Moch Fahmi. Berbahan Rempah-rempah dan Tanpa Pengawet

Minuman dan temulawak. “Kami menamai herbal karena minuman ini murni dari kedelai dan rempah-rempah tanpa bahan kimia atau pengawet,” terang Haris Setyawan saat ditemui di kampusnya, Senin (29/7). Untuk membuatnya, kedelai lebih dahulu direndam selama tujuh hingga  delapan jam sampai lunak. Setelah itu dimasak hingga matang untuk mendapatkan rasa gurihnya.

“Kedelai yang sudah lunak langsung diblender, kemudian dimasak lagi selama empat menit,” terang Haris. Sari kedelai masak ini lalu diberi garam secukupnya dan di- campur dengan sari tebu dengan perbandingan 75 persen sari tebu dan 25 persen sari kedelai. Jadilah sabu sake rasa kedelai.

Sementara untuk rasa jahe me­rah, sari kedelai diganti dengan jahe merah yang telah dikupas, ditumbuk dan diambil sarinya. Perbandingannya 20 persen sari tebu dan 80 persen jahe merah.

“Perbandingan serupa juga berlaku untuk temulawak. Hanya saja kami campur sedikit kapulaga untuk menghilangkan rasa nyinyirnya,” kata mahasiswa asal Lamongan ini. Sebelum dilepas ke pasaran, Haris telah mengonsultasikan keamanan minuman ini ke Dinas Kesehatan Surabaya. “Dinkes memastikan minuman ini aman,” tegas mahasiswa berkacama ini.

Selain aman, Sabu Sahe ini juga sangat bagus untuk kese­hatan. Sari kedelai bisa mengu- rangi kolesterol dan mencegah osteoporosis (pengeroposan tulang). Sementara jahe merah bisa mencegah asma dan sari tebu juga bisa mencegah osteopo­rosis. “Saat ini kami dalam proses mendapatkan sertifikat pangan industri rumah tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan,” sebut alumni SMKN1 Lamongan.

Sebagai tahap awal, Haris dan teman-temannya telah memasarkan produknya ini di sekitar Jalan Jemur Wonosari Gang Lebar. Dalam waktu lima jam, tidak kurang 10 kantong terjual. “Respon konsumen cukup bagus. Mereka suka dengan rasanya,” akunya.

Menurut Haris, usaha ini tidak hanya terbatas di PKM de­ngan target lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIM-NAS), tetapi siap dikembangkan secara profesional.

Dia optimis bisnis ini cukup menjanjikan. Saat ini saja omzet kotor 70 persen didapat dari setiap produksinya. Dan 65 persen di antaranya adalah keuntungan bersih.

Untuk itu, pihaknya sudah merancang program pengembangan, seperti kemasan yang akan dibuat gelas berlebel atau botol. Hanya saja dia masih mengalami kendala soal ketahanan minum- annya. Karena tanpa pengawet, minuman ini hanya tahan antara tujuh hingga delapan jam kalau dibiarkan di suhu terbuka. Jika disimpan di freezer bisa tahan dua hingga tiga hari Kami juga sedang menjajaki untuk membeli mesin ultra high temperature (UHT). Kebetulan di Universitas Brawijaya ada yang berkapasitas kecil. Dengan dimasukkan mesin ini bisa tahan hingga seminggu,” terangnya.

Alternatif lain yang mulai dirancang adalah dengan membuat kemasan bubuk dengan proses pemasakan yang lebih lama.”Kemasan bubuk ini lebih bisa menjangkau pasar,” sebut Haris yang semester tujuh akan terbang ke Thailand untuk melanjutkan program dual degree di Radja Mangala University program kerjasama Ubhara dengan Biro Perencana Kerjasama Luar Negeri (BPKLN). Haris juga sudah berancang- ancang memanfaatkan sisa- ampas kedelai menjadi keripik. Untuk membuat keripik kede­lai, ampas dicampur dengan tepung, kemudian dimasak hingga mengental dan dipotong-potong berbentuk keripik.

Setelah itu diberi bumbu sesuai selera. “Setiap peluang bisnis yang ada ingin kami kembangkan termasuk menjadikannya sebagai frencise. Yang penting sekarang orang tahu dan percaya dengan produk ini dahulu,” pungkasnya. (musahadah)■ 

SURYA, Selasa-30-Juli-2013, hlm. 9 dan 15

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Sari Tebu Rasa Herbal, Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s