Candi Penataran, Kabupaten Blitar

Asyik Mengenal Sejarah di Candi Penataran

Orang bijak mengatakan: “Sejarah adalah masa lalu, masa kini adalah waktu yang harus dijalani dan masa depan adalah misteri”. Namun sejatinya kalau kita mau lebih arif lagi, ketiga masa tersebut adalah sebuah satu kesatuan yang saling terhubung dan memengaruhi satu sama lain. Peninggalan-peninggalan purbakala yang tersebar di berbagai wilayah nusantara memberikan gambaran yang nyata betapa kayanya warisan budaya Bangsa Indonesia yang harus digali dan dijaga.

Arsip candi-penataranKadang kita merasa malas kalau harus belajar sejarah dengan membaca buku. Tapi, rasa itu sirna, tatkala kita menapaki sejarah dengan belajar langsung mencermati, arti relief-relief yang menempel pada dinding candi. Selain itu, keindahan pada candi, membuat kita bangga sekaligus terpesona akan kebesaran akal budi dan budaya bangsa kita tempo dulu. Nah, cobalah kalau Anda berkunjung ke Kabupaten Blitar, sempatkan mampir ke Candi Penataran. Banyak hal yang bisa kita peroleh selain dapat menikmati keindahan candi dan keindahan alam sekitarnya, tentu saja kita bisa belajar sejarah kebesaran bangsa di sini.

Ya, Candi Penataran (masyarakat sekitar menyebut Candi Panataran) adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) di sebelah utara Blitar, tepatnya di desa Panataran, Kec. Nglegok Kab. Blitar atau di lereng barat daya Gunung Kelud. Candi ini, satu-satunya komplek percandian terluas di kawasan Jawa Timur. Hampir sepanjang hari tidak pemah sepi pengunjung. Hanya berjarak sekitar 12 km dari kota Blitar atau kurang lebih setengah jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Dengan kondisi jalan yang relatif mulus dan lebar hingga di depan komplek candi. Menurut catatan, jumlah pengunjung umum rata-rata dalam satu bulan sekitar 20.000 sampai 25.000 orang, suatu jumlah yang tidak dapat dikatakan kecil  sementara jumlah pengunjung candi-candi yang lain rata-rata dalam satu bulan sekitar 5.000 orang saja.

Konon wisatawan asing yang datang di Jawa Timur dalam kunjungannya ke kota Blitar tidak lupa menyempatkan diri ke Candi Penataran. Candi banyak di tulis orang, sumber inpirasi bagi para senirnan, lahan yang lumayan bagi para penjaja makanan dan barang-barang cinderamata. Ragam hias artistik pada ekspresi arsitektural, ikonografis (gambar lambang), dan susastra visual (pada relief) yang terpapar pada bangunan Candi Penataran merupakan dari hasil peradaban berabad lalu. Perbedaannya dengan candi-candi di Jawa Tengah dapat membuat Penataran bisa disebut sebagai candi yang mewakili ragam khas Jawatimuran. Ini yang bisa dijadikan alas an mengapa Candi Penataran disebut ikon, atau lambang, bagi budaya Jawa Timur. Hal ini disampaikan oleh Dwi Cahyono dosen Fakultas Sastra Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang beberapa waktu lalu.

Arsip candi-penataran.Candi Panataran ditemukan 1815, tetapi sampai 1850 belum banyak dikenal. Penemunya Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826), Letnan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial Inggris berkuasa di Indonesia. Raffles bersama-sama dengan Dr. Horsfield seorang ahli Ilmu Alam mengadakan kunjungan ke Candi Panataran, dan hasil kunjunganya dibukukan dalam buku yang berjudul “History of Java” yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini di kemudian hari diikuti oleh para peneliti lain yaitu: J. Crawfurd seorang asisten residen di Yogyakarta, selanjutnya Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), JonathanRigg (1848) dan N.W Hoepermans yang pada tahun 1886 mengadakan inventarisasi di komplek pereandian Panataran.

Memasuki areal Candi, di pintu utama kita akan disambut 2 area penjaga pintu Dwaraphala yang di kalangan masyarakat Blitar disebut “Mbah Bodo”. Yang menarik dari area ini bukan karena besar, namun karena wajahnya menakutkan (daemonis). Pahatan angka pada lapik tertulis dalam huruf Jawa Kuno 1242 Saka atau 1320 M. Ini menunjukkan bahwa bangunan suci palah (nama lain untuk Candi Panataran) diresmikan menjadi kuil negara (state-temple) baru pada jaman Raja Jayanegara dari Majapahit 1309-1328 Masehi. Di sebelah timur Area terdapat sisa-sisa pintu gerbang yang terbuat dari bahan batu bata merah. Bangunan penting lainnya yang terdapat·di sekitar gerbang adalah bangunan yang berbentuk persegi panjang yang disebut dengan Bale Agung. Kemudian bangunan bekas tempat pend eta yang hanya tinggal tatanan umpak-umpak saja.

Sebuah bangunan persegi empat dalam ukuran yang lebih kecil dari Bale  Agung adalah Pendopo Teras atau batur pendopo yang berupa candi kecil berangka tahun yang disebut Candi Angka Tahun, di mana bangunan-bangunan tersebut terbuat dari bahan batu andesit. Di sebelah selatan bangunan candi masih berdiri tegak sebuah batu prasasti atau batu bertulis. Prasasti ini menggunakan huruf Jawa Kuno bertahun 1119 Saka atau 1197 Masehi yang dikeluarkan oleh Raja Srengga dari Kerajaan Kediri. Isinya antara lain menyebutkan tentang peresmian sebuah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah (Candi Panataran). Jadi proses pembangunan komplek Candi Panataran memakan waktu sekurang-kurangnya 250 tahun, di mana mulai dibangun tahun 1197 pada jaman Kerajaan Kediri sampai tahun 1454 pada jaman Kerajaan Majapahit.

Ada beberapa candi di kompleks ini. Di antaranya ada Candi Naga yang terbuat seluruhnya dari batu dengan ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter. Disebut Candi Naga karena sekeliling tubuh candi dililit naga dan fitur-fitur atau tokoh-tokoh seperti raja sebanyak Sembilan buah. Di antara bangunan candi yang paling besar adalah candi induk, yang terletak di bagian yang paling belakang yaitu bagian yang dianggap suci. Bangunan candi induk terdiri dari tiga teras bersusun dengan tinggi seluruhnya 7,19 meter. Pada masing-masing sisi kedua tangga naik ke teras pertama terdapat area Dwaraphala, pada alas area terdapat angka tahun 1269 Saka atau 1347 M.

Pada bagian paling belakang terdapat kolam suci, yang konon ceritanya adalah kolam yang dipergunakan sebagai tempat ibadah ritual. Sisa-sisa kemewahan masa lampau memang masih terlihat dari bangunan kolam mini ini. Kolam yang berukuran sekitar 2 x 5 meter ini terlihat bersih dan tertata bagus. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menelusuri keseluruhan areal candi. Nah, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Kota Blitar, masih satu jalur dengan tempat wisata ziarah Makarri Bung Kamo, maka jika kebetulan Anda berkunjung ke Blitar, tak ada salahnya untuk menyempatkan waktu berkunjung ke Candi Panataran sebagai salah satu wujud penghargaan terhadap sejarah. Selain sebagai komplek percandian terluas, Candi Penataran juga memiliki kekhasan dalam ikonografi reliefnya. Gaya reliefnya menunjukkan bentuk yang jelas berbeda dari candi-candi Jawa Tengah dari sebelum abad ke-11 seperti Candi Prambanan.

Wujud relief manusia digambarkan mirip wayang kulit, seperti yang bisa dijumpai pada gaya pengukiran yang ditemukan di Candi Sukuh, suatu candi dari masa akhir periode Hindu-Buddha dalam sejarah nusantara. Susunan bangunan mirip pura di Bali. Bahkan Wapres Boediono saat mencanangkan kawasan Candi Panataran sebagai Landmark Wisata Kab. Blitar menilai, Candi Penataran masih menyimpan misteri karena masih banyak hal yang belum terungkap dari keberadaan candi itu. “Candi ini nampak masih misteri karena belum banyak terungkap. Ini yang justru menjadikan daya tarik sendiri bagi budayawan dan wisatawan,” kata Boediono. Menurut Wapres, ia mengharapkan para budayawan untuk bisa mengungkap keberadaan candi tersebut. “Dengan bisa memecahkan misteri itu, kita akan tahu dari mana asal bangsa Indonesia dan siapa kita. Selain itu juga bisa mengetahui apa yang dilakukan sebagai bangsa nusantara.” Nah, segeralah Candi Penataran diagendakan sebagai tujuan wisata bersama orang orang tersayang Selamat Berlibur (Zein)

—————————————————————————————

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume II, No. 18, Juni 2010, hlm. 32

 

 

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Candi Penataran, Kabupaten Blitar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s