Samplok, Kabupaten Nganjuk

Samplok….. Penganan Dari Telo Asli Deso

Makanan ini wujudnya berwarna kuning keemasan menjadi wujud khas makanan ini. Dibalut parutan kelapa yang menambah nikmat makanan asli orang pedesaan. Termasuk Nganjuk.

Tak banyak warga desa yang bisa membuat samplok. Hanya segelintir orang saja yang masih mempertahankan keberadaan penganan ini. Lebih kerap ditemui adalah wanita yang sudah beranjak sepuh. Bagi mereka, menjual samplok dan makanan tradisional lainnya adalah profesi yang masih mampu mereka jalani hingga kini. Meski keuntungan yang didapat pun tak seberapa. Dibuat dari bahan dasar ketela pohon alias singkong, tumbuhan yang cukup mudah ditemukan di wilayah Nganjuk baik di musim hujan maupun kemarau.

Membuat samplok ternyata tak semudah seperti membuat gethuk. Meski dari ketela juga. Proses pembuatannya sendiri lumayan rumit di samping perlu waktu dan tenaga ekstra. Awalnya, ketela dikupas sampai bersih dan dicuci. Kemudian baru diselep (dihaluskan dengan mesin penggiling, Red) biar halus. Baru setelah itu dilakukan pembersihan dari rasa getir dan pahit dengan cara diperas dan ditekan dengan tumpukan batu hingga cukup atus. Langkah selanjutnya, dilakukan pemisahan dan pencampuran dengan garam secukupnya untuk selanjutnya di masak hingga matang. Baru dilakukan penumbukan agar menjadi padat dan lebih halus untuk selanjutnya dicetak bulat-bulat sesuai dengan ukuran pemesan.

Tak lupa kelapa muda diparut sebagai pelengkap rasa. Sehingga rasa gurih dari parutan kelapa ikut terasa saat samplok disantap. Samplok bisa dinikmati kapan saja. Umumnya karena masyarakat biasa membeli samplok di pasar tradisional seperti Pasar Wage, Pasar Gondang atau Pasar Kertosono saat pagi hari, maka samplok pun lebih banyak dikonsumsi pada pagi hari. Tapi bila disantap di saat yang lain seperti siang atau sore hari pun masih terasa nikmat.

Karena ndeso, samplok pun kalah bersaing dengan penganan atau makanan modern. Meski sama-sama termasuk penganan kelas berat, samplok masih kalah bersaing dengan roti. Disamping tidak tahan lama karena cara pembuatannya yang alami tanpa bahan pengawet, juga lantaran banyak memerlukan tenaga. Di kota sedang seperti Nganjuk saja, industri roti bak jamur yang banyak tumbuh di kota bahkan pedesaan

Hal ini berbeda dengan samplok yang hanya dibuat oleh segelintir orang saja. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataan. Namun diantara segelintir orang Sumini termasuk salah satunya. Wanita 43 tahun asal Dusun Gilis Desa Sonobekel Kecamatan Tanjunganom ini tak bisa mengelak nasibnya yang kini menuntunnya menjadi pembuat dan penjual samplok. Semua itu tak lepas dari sejarah masa kecilnya yang sudah akrab dengan samplok.

Kegiatannya membuat samplok dilakukannya pada saat saat senggang seperti sedang menunggu panen padi. Dengan memanfaatkan waktu luang, Sumini mengajak ibu-ibu di desanya membuat samplok. Cukup kreatif.

Laba yang tidak seberapa tidak menyurutkan semangat ibu tiga anak ini untuk terus membuat samplok. “Memang untuk laba tidak begitu menjanjikan. Tapi saya senang masih bisa terus membuat samplok. Biar orang-orang tetap ingat kalau ada makanan desa yang masih dijaga keberadaannya sampai sekarang ini,” ujar Sumini.

Wanita gigih ini menceritakan awalnya belajar membuat samplok. Kemahirannya tersebut dimiliki secara turun temurun dari orang tuanya, Rakilah, 74 tahun. Semenjak usia kanak-kanak, Sumini kecil sudah dikenalkan dengan teknis dan cara membuat samplok hingga menjadi terampil. Baru setelah tenaga Rakilah yang semakin renta tidak mampu membuat samplok Sumini pun melanjutkan kemampuan ibunya untuk membuat samplok.

Selama ini, bahan baku memang mudah didapat. Biasanya, dari pasar Berbek dengan harga saat ini Rp 70.000,- per kuintal yang diantar langsung oleh mitra kerja. Dalam sehari, Sumini bisa menghabiskan satu kuintal ketela tersebut dan dapat dibuat menjadi 150 bungkus samplok. Setiap bungkusnya, Sumini menjual dengan harga cukup terjangkau, yakni Rp 2.000,-.

Nah, samplok meski menjadi penganan asli ndeso, juga potensial untuk menjadi oleh-oleh khas Nganjuk. Tentu saja dengan desain kemasan yang lebih cantik dan menarik di samping penjualannya yang harus lebih disebarluaskan lagi di toko roti atau yang menjual makanan tradisional khas Nganjuk. (mbs).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: DERAP Anjak Ladang Edisi 186 Th. 2008 hlm. 19-20

 

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Samplok, Kabupaten Nganjuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s