Museum Mpu Tantular, Kabupaten Sidoarjo

Museum Mpu Tantular: Lebih Modern di Sidoarjo

Kabar tentang Museum Mpu Tantular akan dipindahkan dari Jl. Taman Mayangkara, Surabaya, sudah santer sejak tahun 2002. Konon, sentuhan teknologi modern akan dihadirkan di lokasi baru, di Jenggolo, Sidoarjo. Tentu, untuk menarik minat masyarakat. Gedung eks-museum di Taman Mayangkara (berstatus cagar budaya) akan dimanfaatkan untuk pusat kegiatan berkesenian dan berkebudayaan. Boleh jadi, itulah nilai tambah untuk Surabaya dan Sidoarjo, sekaligus.

Arsip.Lega. Kata ini barangkali yang bisa mewakili masyarakat maupun orang-orang yang yang terlibat dengan keberadaan Museum Negeri Propinsi Jawa Timur  (MNPJT) Mpu Tantular. Lega lantaran museum yang sebelumnya berada di Jl. Taman Mayangkara, Surabaya, itu akhirnya resmi menempati “rumahnya” yang baru di kawasan Jenggolo, Sidoarjo, dan akan dibuka resmi 14 Mei 2004.

Lega itu juga menggambarkan penataan museum yang kini memang lebih lega, karena menempati area cukup luas, 3,5 hektare dengan 12 unit bangunan. Praktis membuat penataan koleksi sangat leluasa. Tidak seperti saat di Taman Mayangkara, terkesan sumpek, karena bangunan museum “cuma” seluas 1.508 m2, koleksinya 15 ribuan. Kelak, 12 unit bangunan di Jenggolo itu antara lain untuk pameran tetap, pameran temporer, ruang karantina, ruang penyimpanan, ruang koleksi, ruang serbaguna, dan perpustakaan.

Kabar tentang MNPJT Mpu Tantular akan dipindahkan, sebenarnya sudah terdengar sejak tahun 2002. Namun kapan museum itu benar-benar dapat dinikmati masyarakat, terus menjadi tanda tanya. “Kami mempersiapkan secara maksimal untuk pindah. Museum ini koleksinya sangat banyak dan rentan, sehingga dalam packing pertimbangannya harus memperhatikan keselamatan benda-benda langka itu,” kata Drs Himawan, Kepala MNPJT Mpu Tantular.

Arsip...Sekitar empat bulan belakangan ini pihaknya “ngebut” memindahkan koleksi museum sekaligus membersihkan dan menata. “Memindah museum tidak sekadar memindahkan barang, tapi ngalih (pindah) dengan tata pamerannya juga. Nah, ini yang mahal dan lama,” ungkap alumni ISI yang sudah 11 tahun berkarya di museum tersebut.

Teknis dan Dana
Prinsip pemindahan koleksi museum, menurut arkeolog Drs. Jusuf Ernawan MHum, barang (koleksi) jangan sampai rusak. Jika lokasi pemindahannya jauh, harus dipertimbangkan pula temperatur ruangan. Pasalnya, benda koleksi museum merupakan benda uzur. “Butuh perlakuan spesial,” kata antropolog dari Unair Surabaya itu.

Pendapat senada dilontarkan Kasubdin Kebudayaan Dinas Kebudayaan Jatim, Dra. Mulyantari MM. Kelambanan proses pemindahan museum tersebut  menyangkut persoalan teknis yang tak bisa dihindari. Baik soal pengangkutan maupun kendala lain tentang minimnya anggaran. Kendati begitu dia menyatakan tak tahu persis berapa nominal anggaran yang disiapkan untuk pemindahan museum tersebut.

ArsipMenurut Jusuf, pemindahan sebenarnya bisa cepat jika di tempat baru sudah siap tata letaknya. Dengan demikian saat koleksi sampai di tempat baru langsung
Bias ditata kembali, bukan masuk gudang atau digeletakkan begitu saja SDM pun harus siap. Dia menduga persoalan dana menjadi halangan pihak museum. Sekali angkut saja sebenarnya bisa. Namun, apakah anggaran untuk pengangkutan memadai, dan apakah layout tempat baru juga sudah siap?

Sejumlah karyawan museum itu mengungkapkan April ini mereka konsentrasi pada penataan pameran koleksi. Jika tidak ada perubahan lagi, maka pertengahan Mei MNPJT Mpu Tantular di Jenggala, Sidoarjo, resmi dibuka untuk umum. Di tengah kesibukan pindah itu, museum di Jl. Taman Mayangkara, Surabaya, tetap dibuka untuk umum. Pengunjung akan dapat penjelasan ihwal koleksi yang masih bisa dilihat. Kepindahan museum itu sudah direncanakan sejak lama. Berawal dari pembebasan tanah di Jenggolo tahun 1994,  pembebasan kedua termasuk pengurukan tahun 1995. Tahun 1996 “istirahat”, setahun kemudian mulai pengerjaan fisik berupa pagar. Salah satu kendala tersendatnya pembangunan adalah keterbatasan dana APBD Pemprop Jatim. Lantaran itu, versi Himawan, perencanaan dan pembangunan dilakukan secara bertahap. Sampai sekarang pun pembangunan 12 unit gedung baru belum tuntas. Bangunan limas di ujung depan belum ada. Pertamanan juga belum siap.

Tak pelak hingga pekan ketiga April ini di lokasi baru itu masih terkesan gersang dan panas. Belum lagi saran a semacam jaringan telpon dan daya listrik. Ihwal pertimbangan pindah juga dalam rangka pengembangan museum. Gedung lama di Taman Mayangkara memang strategis, tetapi dari sisi kepentingan museum pihaknya tak bisa memaksimalkan kegiatan, karena keterbatasan ruang. Untuk skala museum propinsi, seharusnya berada di lahan sekitar 2,5 hingga 3 hektare.

Teknologi Modern
ArsipDi Jenggolo, pihak museum melakukan penambahan koleksi dengan cara menggemukkan koleksi bersifat iptek. Pengadaan sarana baru yang diwujudkan dalam Science Center, kelak merupakan upaya untuk menarik minat masyarakat, dan memenuhi kebutuhan masyarakat atas perkembangan teknologi. Bukan sekadar tempat menyimpan dan memamerkan artefak. Di Science Center (lantai dua gedung pameran tetap) dipamerkan sekitar 42 koleksi, antara lain cara kerja teleskop, kerucut gantung, katrol mini, patok pengukur lepas, baterai tangan cermin siku dan miniatur PLTA (pembangkit listrik tenaga air).

Guna melengkapi koleksi alat peraga di Science Center, pihak museum bekerja sama dengan Pusat Peragaan Iptek Kementerian Ristek, serta dengan ITB Bandung. Sementara, koleksi lainnya tidak ada yang berubah. Di bawah ruangan yang mengetengahkan koleksi iptek adalah koleksi sejarah (lantai satu). Antara lain koleksi dari zaman prasejarah, batu pusaka dari masa Majapahit, China, Annames, keramik Majapahit, alat pembatik kuno, pahatan kayu, dan tulisan Jawa kuno di daun lontar.

Di lokasi baru dengan 12 unit gedung itu juga direncanakan outdoor untuk permainan tradisional semacam egrang dan baksodor. Sementara untuk sport otak saat ini disiapkan permainan catur dalam ukuran besar. Buah caturnya setinggi bocah SD. Seperti saat di Taman Mayangkara, di Jenggolo juga disiapkan ruang serbaguna bagi para seniman yang ingin berapresiasi. Cuma, kalau di Taman Mayangkara fasilitas itu gratis, di Jenggolo konon akan dikenai tarif.  Tentang hal ini Himawan belum begitu yakin. Namun kalau pihaknya dibebani memasok PAD (pendapatan asli daerah), kemungkinan besar memang tidak gratis.

Pengamatannya selama ini, pengunjung terbesar Mpu Tantular adalah pelajar dan mahasiswa, sekitar 60-70 ribu orang/tahun. Selain kalangan pelajar dan mahasiswa, Himawan melihat kalangan keturunan Tionghoa dan turis mancanegara rajin ke Mpu Tantular. Mereka tak sekadar mengamati koleksi, namun juga belajar mengelola koleksi, meregistrasi, dan  mempelajari aristektur bangunannya. Program lain yang akan digeber setelag Mpu Tantular boyong ke Jenggolo adalah, menggelar pameran berskala nasional, pameran antar-museum negeri Propinsi Jawa, dan pameran keliling antar-kabupaten/kota di Jatim. Bagus!

Perjalanan Musem
Museum MpuTantular merupakan kelanjutan dari Stedelijk Historisch Moeseoem Soerabaia yang didirikan oleh Von Faber. Usaha kolektor berkebangsaan Jerman dirintis sejak 1922, namun baru 11 tahun kemudian dapat terwujud, dan dibuka resmi pada 25 Juni 1937. Lokasi semula di Raadius Ketabang, kemudian pindah ke Tegalsari, di rumah janda Han Tjiong King. Dari Tegalsari pindah lagi Jl. Pemuda 3 (sekarang SMU Trimurti).

Nama Stedelijk Historisch Moeseoem diubah menjadi Museum Jawa Timur tahun 1972, kemudian 1 November 1974 diresmikan dengan nama Museum Negeri Propinsi Jawa Timur Mpu Tantular. Nama itu dipilih dengan pertimbangan Mpu Tantular adalah tokoh pujangga tersohor di zaman Majapahit. Mpu Tantular juga mengandung dua pengertian. Mpu bermakna ibu, titik pusat segala gerak dan pandangan hidup. Sedangkan Tantular berarti tak tertular, tak terpengaruh, tak menyimpang, dan tak tergoyahkan.

Akhir 1975 museum pindah ke Jl. Taman Mayangkara 6 yang sebelumnya ditempati Cabang Javasehe Bank Gedung berarsitektur Belanda itu didirikan 9 November 1920. Direncanakan, pertengahan Mei 2004 museum itu dipindahkan lagi ke Jenggolo, Sidoarjo. Gedung eks-museum di Taman Mayangkara seluas 1.508 m2 di lahan seluas 4.140 m2 itu termasuk cagar budaya, dan akan dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan berkesenian dan berkebudayaan. Semoga saja terwujud. noy

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 33, 23  April – 7  Mei 2004, Tahun II

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Museum Mpu Tantular, Kabupaten Sidoarjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s