Candi Pari, Kabupaten Sidoarjo

candi-pari002Candi Pari yang berdiri di tengah-tengah Desa Candipari, Kecamatan Porong (15 km arah selatan Sidoarjo) adalah satu-satunya Candi peninggalan Kerajaan Mojopahit, yang bentuk sepenuhnya berpola Candi Khmer (Birma) dan Campa (Thailand). Hingga saat ini bentuk Candi Pari yang nyeleneh dari pola umum percandian Mojopahit itu belum diketemukan.

Ciri khas pola bangunan Candi Mojopahit selalu langsing pada bagian tubuh (tengah) dan Trapesium pada bagian atap atau mahkota. Dan selalu terbuat dari bahan batu emas.

Candi Pari walaupun dibuat oleh Penguasa Mojopahit pada tahun 1293 saka atau 1371 Masehi memiliki bentuk kubus, tanpa ada pembagian yang streotipe antara batur, tubuh dan mahkota. Satu-satunya ciri sebagai Candi Mojopahit hanyalah bahannya yang terbuat dari bata merah.

Panjang Cndi ini 16,86 meter, lebar 14,10 meter, tinggi 13,40 meter. Dengan demikian tampak gundek, dan lebih horizontal. Sedangkan pola umum Candi Mojopahit selalu berorientasi vertikal.

Candi Pari ini berdiri di atas batur persegi empat, bagian barat menjorok keluar dengan undak tangga pada sisi kanan kiri menuju pintu masuk. Di atas pintu tertulis angka tahun pembuatan, dan memasuki Candi ini hanya berupa ruang.

Atap Candi telah runtuh berbentuk amluntan, masing-masing dihias dengan sumber dan menara kecil. Pada atap atau mahkota inilah terletak ciri nyeleneh Candi Pari, sebab bentuk mahkota ini sepenuhnya memakai pola Khmer ataupun Campa. Tak ada penjelasan kenapa Candi ini memakai bentuk bangunan Negeri Campa, walaupun ada bukti bahwa 2 kerajaan di Asia Tenggara itu pernah menjalin hubungan dengan Mojopahit. Bahkan putri negeri itu yang telah beragama Islam ada yang menjadi istri raja Mojopahit pada awal abad 15.

Menurut penelitian yang dilakukan pada zaman Belanda, Candi Pari merupakan Candi utama dari sekian jumlah Candi lainnya yang berada di dalam satu kompleks dengan pagar tembok, gapura, dan teras.

Walaupun bentuk bekas tembok yang mengurung kompleks belum ditemukan, tetapi laporan zaman Belanda itu agaknya tidak terlalu salah, sebab di sebelah selatan Candi Pari, berdiri sebuah candi dengan pola Majapahit murni yang disebut Candi Sumur. Nania ini digunakan, karena di bagian dalam candi ada sebuah sumur yang saat ini telah mengering. Candi Sumur ini rusak berat, tinggal separuh dinding candi yang masih berdiri.

Melihat jaraknya yang berdekatan, kemungkinan besar dua Candi itu merupakap satu kesatuan, yang merupakan ciri percandian di Nusantara. Tak ada sebuah candi berdiri sendiri.

Berbeda dengan temuan Belanda tentang fungsi Candi Pari yang disimpulkan sebagai pusat peribadatan, dalam masyarakat sekitar candi beredar cerita lisan (Folklor), yang mengatakan bahwa didirikannya Candi Pari itu sebagai simbul kesuburan desa setempat dengan produksi padi (pari) yang melimpah dan mampu menyetorkan upeti kepada raja di Mojopahit. Sementara Candi Sumur sebagai simbul pengairan yang membuat persawahan sekitarnya tak pernah mengalami kekeringan.

Hasil padi sebelum dikirim ke Kota Raja Mojopahit, ditempatkan terlebih dahulu di sebuah desa, sekitar 1 km arah selatan Candi Pari. Itulah sebabnya di sana ada komplek candi bernama Pamotan yang dalam bahasa jawa berarti tempat pemuatan. Artinya dari tempat itulah padi-padi dimuat dengan alat angkut ke Mojopahit.

Agaknya faktor itu yang berkembang dalam masyarakat sekitar itu tidak menyimpang jauh dari analisa Belanda yang mengatakan bahwa Pamotan adalah pusat pemerintahan kecil sebagai bawahan raja Mojopahit. Penguasa Pamotan disebut Breh Pamotan yang juga menjabat sebagai Breh di Wengker, bernama Wijaya Rajasa. Dengan demikian pusat pemerintahan tidak berada di sekitar Candi Pari, tetapi di sekitar Candi Pamotan.

Candi Pamotan sudah runtuh dan tinggal baturnya saja. Di sekitar Candi ini ditemukan dua Candi lain yang diduga merupakan satu kesatuan kompleks.

Dari 5 buah Candi yang ada di Kecamatan Porong, itu hanya Candi Pari yang masih baik dan bentuk dasar utuh. Selain itu Candi ini terbesar dari candi-candi yang ada di Sidoarjo, misalnya Candi Dermo di Wonoayu, dan Candi Tawang di Desa Buncitan Kecamatan Sedati. Itulah sebabnya Dinas Purbakala Trowulan, Mojokerto mengutamakan candi ini diselamatkan terlebih dahulu dipugar mulai tanggal 13 September 1994 dan akan rampung tahun 1999. Oleh: Drs. Muslimin

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Gema Delta, Maret 1995, hlm. 28

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Candi Pari, Kabupaten Sidoarjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s