Pesarean Agung Kesambongan, Surabaya

Ningrat Tionghoa Mas Ngabehi  Reksodiwirjo
Sambongan Surabaya 1Dari Juragan Sam Hong, menjadi sahabat sekaligus mertua Bupati Surabaya, keturunannya menjadi Bupati di daerah ini. Meski bergelar Mas Ngabehi, nama aslinya lebih dikenal hingga menjadi Sambongan.

Di kawasan Kedung Anyar, Surabaya, terdapat sebuah gang bernama Gang Bei. Dinamai demikian, konon karena tempat ini dulu menjadi kediaman para Ngabehi. Yaitu golongan bangsawan yang oleh orang Jawa biasa dipanggil Ndoro Bei.

Tidak jauh dari gang tersebut, di pinggir Jalan Arjuna, terdapat sebuah makam, yang di papan namanya tertulis Pesarean Agung Kesambongan. Namun orang-orang sekitar lebih mengenalnya sebagai Makam Bei daripada nama resminya itu. Makam Bei lebih dikenal karena di situlah para Ndoro Bei tadi dikuburkan.

Dari ratusan makam di sana, ada satu nisan yang terlihat berbeda dibanding lainnya. Nisannya paling tinggi, berwarna putih dengan ukiran kuning keemasan. Di salah satu bagiannya tertulis dengan huruf latin, M. Ng. Reksodiwirjo.

“Mas Ngabehi Reksodiwirjo inilah leluhur Ndoro-Ndoro Bei lain yang dimakamkan di sini,” jelas Sadi, juru kunci makam.

sambongan SurabayaSiapakah tokoh ini sebenarnya? Nama Kesambongan seperti tertulis di papan nama makam sedikit menjelaskan tentang latar belakangnya. Mas Ngabehi Rek­sodiwirjo adalah gelar bangsawan yang diberikan Bupati Surabaya kepada seorang Tionghoa bernama Sam Hong.

Dia adalah salah satu contoh orang Tionghoa yang diangkat ke dalam kalangan bangsawan Indonesia. Fenomena seperti ini banyak terjadi pada abad ke-19, ketika orang-orang Tionghoa berusaha melebur ke dalam masyarakat bumiputera. Mereka tak keberatan untuk menjadi orang Jawa dan beragama Islam. Tak sedikit dari orang-orang Tionghoa waktu itu yang ingin melebur ke dalam masyarakat bumiputera dengan berupaya masuk golongan elite, golongan bang­sawan. Menurut Ong Hok Ham dalam “Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa”, orang Tionghoa memasuki kala­ngan bangsawan melalui perkawinan atau dengan jalan membuat jasa-jasa. Dan karena jasa-jasa tersebut akhirnya mereka diangkat ke dalam golongan ningrat. 

Kampung Sambongan sekarang
Kakek Cokronegoro IV, Tidak jelas benar dari she atau keturunan marga apa Sam Hong berasal. Hanya, menurut Yousri Nur Raja Agam, MH, dalam sebuah tulisannya, Sam Hong berasal dari fam Oei. Pemerhati sejarah dari Surabaya ini juga menulis bahwa Oei Sam Hong sehari-hari dikenal seba­gai saudagar kaya dengan sapaan Babah Samhong.

Tentang status sosial ekonominya itu, keturunan Reksodiwirjo yang tergabung dalam Yayasan Keluarga Besar Kesambongan, membenarkan. “Dia seorang pedagang kayaraya hingga orang biasa menyebutnya Juragan Sam Hong,” ungkap Mas Ngabehi Supriyanto, keturunan ke-8 Reksodiwirjo, kepada LIBERTY.

Menurut Yousri, Sam Hong memiliki tanah luas yang disewakan kepada penduduk, sehingga menjadi sebuah kawasan pemukiman. Kawasan ini disebut Samhong-an yang lama-kelamaan berubah menjadi Sambongan.

Sam Hong mendapat simpati dari Bupati Surabaya, Adipati Cokronegoro, bersahabat dengannya, dan ma­suk Islam. Sebagai penghormatan, ia memperoleh gelar Mas Ngabehi Reksodiwirjo. Bahkan kemudian diangkat sebagai mantri pada kantor asisten wedana (kecamatan) di Kabupaten Surabaya.

Karena pergaulannya dengan warga pribumi, anak keturunannya pun menyatu dengan warga asli Sura­baya. “Berkat jasanya mendirikan kawasan pemukiman atau kampung Sambongan, ia dijuluki sebagai Mbah Buyut Sambongan,” tulis Yousri.

Senada dengan Yousri dan Supriyanto, Ong Hok Ham juga menyebut Sam Hong sebagai orang kaya. Menurut Ong, Sam Hong adalah seorang peranakan Ti­onghoa yang menjadi sahabat karib anak adipati Sura­baya. Dia telah banyak berjasa kepada sahabat karibnya itu hingga anak sang adipati merasa berhutang budi kepadanya.

Namun, anak adipati tersebut tidak bisa membalas jasa Sam Hong dengan uang karena Sam Hong sendiri orang kaya. Maka, saat si anak adipati menjadi bupati Surabaya, ia meminta Sam Hong menjadi orang Jawa. Sesudah permintaan ini diluluskan, sang bupati Surabaya meminta pamannya, Bupati Bolang, untuk meletakkan jabatan dengan alasan sudah tua. Permintaan ini pun dikabulkan dan Sam Hong di­angkat sebagai gantinya, menjadi bupati Bolang. Salah satu putri Sam Hong, kemudian juga dinikahi oleh Bupati Surabaya, sahabatnya.

Anak pernikahan campuran ini adalah Cokronegoro IV yang menerima warisan sangat besar dari Sam Hong. “Kekayaan Sam Hong demikian besarnya hingga ada suatu blok rumah di Surabaya yang dinamakan Sambongan,” tulis Ong. Sambongan sekarang berwujud sebuah kampung yang terdiri dari beberapa gang di kawasan pecinan Kembang Jepun. Seperti halnya persahabatan Sam Hong dengan Adipati Surabaya, Kampung Sambongan dihuni oleh beberapa etnis yang rukun berdampingan. Guyup rukun juga terjadi saat keturunan Sam Hong yang bernaung dalam Yayasan Keluarga Besar Kesam­bongan berkumpul setiap bulan Syawal di Makam Bei. • HK

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, 1-10 Januari 2009, 142-143.

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Pesarean Agung Kesambongan, Surabaya

  1. Farida Iskandar M. Ng. Praptokoesoemo says:
    Mas Ng.Reksodiwiryo atau Oei Samhong bukan orang Tionghoa tapi dia orang Jawa keturunan Mataram (putra dari Pangeran Kertonadi alias Pangeran Selarong) yang dititipkan kepada seorang kapiten Cina dan dibawa ke Tiongkok dan dinikahkan dengan putri dari kapiten cina setelah dia dewasa. Dan kembali ke Surabaya di mana dia menjadi pengusaha dan menjadi syahbandar di gresik dan juga menjadi bupati bolang setelah kaya atas kepercayaan Bupati Surabaya. Dan selanjutnya keturunannya menjadi para bupati di Surabaya..Dia menjadi tuan tanah yng menguasai tanah 2 sekitar Patemon , Grudo, Genteng, Krian, Gubeng, Bagong, Porong Rawa Pulo.
    .Dia di makamkan di Pesarean Kapasan dan sekarang ini telah dipindah di Pesarean Boto Putih di dalam Pesarean Kanjengan. Mengenai dia bermarga Oei dia dapatkan dari ayah angkatnya sang kapiten Cina yng mengadopsi dia sejak usia 4 tahun.Sebenarnya dia mempunyai adik yng bernama M.Ng.Sailoedin yng berada di Kediri dan juga menurunkan para ningrat di Jatim. Data ini didapat dari para keturunan Mas. NG.Reksodiwiryo alias Oei Samhong alias Djuragan Sambong alias Kesambongan.Para keturunannya dimakamkan di Pesarean Agung Kesambongan di jl. Arjuna Surabaya…..
  2. hendro.p64@gmail.com says:
    Banyak cerita sebenarnya tentang M. Ng. Reksodiwirjo, dari buku yang pernah saya baca hasil penelusuran I (era tahun 1935 – 1950, tulisan M.Ng. Ibnoe Hadinoto) dan penelusuran II ( era tahun 1951 – 1980, tulisan M.Ng. Soehartono) hampir mirip dengan cerita versi Farida Iskandar, hanya saja kurang lengkap dan banyak tercecer.
    Menurut tulisan tersebut, diriwayatkan bahwa M.Ng. Reksodiwirjo adalah putra dari Kanjeng Pangeran Kertonadi dari Kartosuro dibawah pemerintahan Kanjeng Susuhunan Amangkurat Mas/Pangeran Mas saat bekerjasama dengan VOC. Pangeran Kertonadi adalah salah satu pemberontak yang melawan Pemerintahan Pangeran Amangkurat Mas yang berpihak pada Kompeni (VOC) waktu itu, sehingga ada perintah bunuh dan musnahkan Kertonadi dan seterusnya dan seterusnya……..
    Versi lain juga tentang kisah Juragan Sambong / Sambongan, dll
    Harapan saya semoga ada gayung bersambut dari cerita-cerita yang tercecer untuk dapat kita kumpulkan menjadi cerita sejarah tentang keberadaannya.
    hendro. p (banten)…
  3. Farida Iskandar M. Ng. Praptokoesoemo says:
    Untuk info tambahan dari segi sejarah mengenai M.Ng. Reksodiwerio alias Oei Samhong atau Kesambongan ,dia bukan orang tionghoa tapi orang jawa,keturunan mataram pd zaman keraton Kartasura, dia putra dari pangeran Silarong.
    Data pertama dengan keberadaan Pangeran Silarong dia adalah putra dari Prabu Amangkurat IV Jawa (1719 -1726 ) dan cucu dariPakj Buwono I ( Pangeran Puger ).
    Catatan ini diambil dari “Serat Raja Putra Karaton Mataram Lan Kartadura ” dari Kantor Tepas Dadab Calam Jogyakarta.
    Pangeran Silarong putra yng ke 28.Dengan nama Raden Mas Yadi ( saking Mas
    Ayu Mundri asli Silarong ).Nama Pangeran Arya Silarong.
    Data kedua catatan dari buku Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa ( 1725-1743 )karya Willem Remellink , di nyatakan ada beerapa Pangeran yng meninggalkan Keratonketika terjadi Perang di Kartasura. Diantara Pangeran 2 antara lai R.Mas Said, Pangera Mangkubumi dan Pangeran Silarong. Mereka lari ke Semarang.
    Rupanya saat di Semarang ini P.Selarong menitipkan salah satu putranya yang masih balita ke pada remannyaseorang tionghoa yang akan ke Tiongkok. Selain itu pd saat pelariannya dia memakai nama samaran Kiai Kertonadi atau Djoko Rowo.
    Dan pada halaman 510 ada juga ketrangan mengenai Pangeran Silarong. Dia bernama R. Mas Suradi juga disebut Raden Mas Yadi .Lahir dari Mas Ayu (1722-1723 ).
    Diangkat menjadi Pangeran tgl. 5 Januari 1736.Menikah dengan putri Tumenggung Surabrata dari Ponorogo pd tgl.14 Nopember 1735.
    Data ke. Tiga mengenai Kesambongan di muat juga di buku “Riwayat Tionghoa Peranaka diJawa” karya Onghokham 1987.
    Untuk selanjutnya mengenai M.Ng. Reksodiwirio atau OeiSamhong atau Juragan Sambong sdh di ceriteraka diatas.
    Semoga menjadi bahan untuk di bahas.Dan di harapkan bagi semua keluarga besar Mas Ng. Reksodiwerio dimanapun berada untuk bisa menambah informasi……
    • hendro.p64@gmail.com says:

      terima kasih ibu, semoga menjadi catatan dan referensi tambahan.
      Ayo para pinisepuh dan atau keturunan Kesambongan, beri kami masukan dan tambahan informasi (cerita) untuk dapat kami sadur dan menjadi bahan referensi selanjutnya

  4. radityo ismawan says:

    matur nuwun infonipun..supados putro wayah mangertos selosilah ipun .kados pundi bab ipun botoputih sinten kemawon ingkang dipun sare kaken..bab eyang kasepuhan ,kanoman kromojayan.kesambongan.lan Lideran//matur nuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s