Keripik Singkong, Kabupaten Nganjuk

pekerjaannya semula sebagai tukang pangkas rambut. “Saya ingin mencari peluang bisnis yang lebih menguntungkan,” ungkapnya sambil menghisap rokok filter kesukaannya dalam-dalam.

Meski harus belajar kembali, Pak Acus tetap giat tanpa harus malu-malu. Kerja sama dengan rekan kerja harus ia coba untuk melancarkan bisnis barunya. Di tahun-tahun pertama ia harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan bahan baku singkong yang terbaik. Belum lagi harus membuka peluang pasar baru Kini ia seakan tinggal memetik hasil jerih payahnya. Rekan kerja untuk mendapatkan bahan baku singkong sudah ia dapatkan. Yaitu di daerah Pare, Kesambi dan wilayah Kabupaten Kediri. “Singkong di sana memang mutunya bagus, dagingnya banyak, kayunya sedikit,” terangnya.

Kenapa tak memilih singkong lokal saja? “Singkong lokal justru kebalikannya. Meski bibitnya sama tapi kalau ditanam di Nganjuk, kok hasilnya juga beda. Mungkin struktur tanah yang membuatnya demikian,” lanjutnya panjang lebar. Tak tanggung-tanggung dalam sekali memesan singkong sampai lebih dari 5 kuintal.” Harganya sekitar Rp 1.000-an. Lebih murah dari pada di Nganjuk yang sudah Rp 1.500 perkilogram. Pertimbangan mutu dan harga menjadi alasan utama PakAcus memilih singkong dari Pare Singkong yang masih kotor dikupas kulitnya lalu dicuci bersih. Baru kemudian dipotong-potong dengan mesin pemotong. Mesin pemotong singkong ini sudah dimodifikasi kembali sedemikian rupa oleh Pak Acus sehingga dalam setiap piringan terdapat dua besar tapi justru merepotkan. Makanya saya kembali ke minyak tanah”, akunya dengan lugas.

Meski minyak tanah kian langka dan mahal, Pak Acus tetap nekat mencarinya hingga ketemu. “Pernah saya beli hingga Rp 3.700 per liter di daerah Bagor. Padahal saya beli banyak. Tapi mau bagaimana lagi, wong saya butuh”, keluhnya. Untungnya harga minyak goreng mata pisau sangat tajam. Ketebalan singkong juga telah diatur sehingga potongan singkong sama tipisnya dari ujung hingga pangkalnya. Sehingga singkong bisa sama-sama matang waktu digoreng jelas Pak Acus. Dengan alat ini pekerjaan mengiris singkong bisa menghemat waktu lebih banyak dan juga menghasilkan irisan lebih banyak. Paling tidak alat ini bisa mengiris singkong seberat dua ton dalam dua hari. Luar biasa !

Singkong yang sudah berubah wujud menjadi irisan tipis-tipis dengan ketebalan sekitar 1, 7 mm itu lalu direndam dalam air sekitar 5 hingga 10 menit. Setelah ditiriskan, irisan singkong digoreng dalam wajan super besar. Penggorengan yang lebih mirip sumur ini bisa menampung sekitar 60 liter minyak goreng. Dan bisa menghasilkan keripik singkong 2,5 kg dalam kondisi matang. Karena penggorengannya super besar, apinya pun juga harus benar-benar panas. Tak heran, bahan bakar yang terserap juga banyak. Untuk setiap 10 kg keripik  singkong diperlukan 5 liter minyak tanah. Sebenarnya PakAcus sudah berusaha untuk mencoba bahan bakar alternatif seperti kayu bakar. Tapi nampaknya tidak semudah yang dibayangkan.” Saat musim hujan begini, kayunya banyak yang masih basah.

Selain mahal, masih harus dikeringkan lebih dulu. Meski kayu lebih baik menghasilkan api yang belakangan agak membumbung, kini berangsur stabil. Sehingga kerisauan yang dirasakan Pak Acus agak berkurang. Karena untuk setiap kuintal singkong diperlukan sekitar 13 kilogram minyak goreng untuk menggoreng irisan singkong. Dan menjadi keripik singkong lawar (tanpa bumbu) sebanyak 30 sampai 33 kg per kuintal singkong. Hebatnya, keripik singkong lawar ini mampu bertahan hingga dua minggu. Tapi PakAcus termasuk orang yang beruntung, ia kini tak perlu bersusah payah mencari pelanggan. Para pedagang eceran yang dijual dengan gerobak sudah menjadi pelanggan tetapnya. “Ada empat orang yang sudah jadi pelanggan tetap saya”, katanya sambil tersenyum. Itu belum termasuk 2 orang pedagang eceran dari Madiun dan Caruban.

Khusus untuk para pedagang eceran, Pak Acus sudah mempersiapkan keripik singkong dalam wadah 10 kilogram.” Biasanya untuk berdagang selama beberapa hari,” imbuhnya. Para pedagang eceran ini cukup dikenai Rp 105.000,- untuk setiap 10 kg keripik singkong. Ini sudah termasuk bumbu rasa sebanyak 1 kg. “Memang sudah jadi paket. Setiap 10 kg, bumbunya 1 kg,” tuturnya. “Bumbunya juga saya buat sendiri dengan komposisi gula, garam dan bawang putih goreng kering lalu semuanya digiling halus dengan mesin selep,” terangnya lagi. Oleh pedagang eceran, keripik singkong dijual dengan harga sekitar Rp 1.400,- sampai Rp 1.500,-. Namun Pak Acus juga tak mengabaikan pembelian dalam skala kecil. Semisal ada tetangga atau masyarakat membeli hanya setengah kilo pun tetap dilayani. “Sudah saya siapkan untuk mengantisipasi hal seperti itu,” lanjutnya. “Malah ada yang membeli cuma tiga kilogram untuk dikemas dalam plastik kecil dan dijual di terminal. Tapi harganya disamakan dengan harga di pasaran,” ucapnya lagi.

Selain itu Pak Acus juga tak perlu harus turun tangan langsung untuk menangani pekerjaan membuat keripik singkong. Kini ia memiliki tiga orang karyawan yang akan melakukan proses demi proses. Beban yang dipikulnya menjadi lebih ringan ketimbang saat ia masih jadi tukang pangkas rambut. “Dulu saya sendiri yang harus mengerjakan,” akunya. Kini Pak Acus justru menikmati perannya sebagai pemilik usaha sekaligus pengelola dan pengawas usaha keripik singkong miliknya sendiri. Atau dalam bahasa ekonomi sebagai owner, manager dan supervisor. “Ya, kadang-kadang juga merangkap sebagai tukang kirim (delivery) ke luar kota,” ucapnya sambil tertawa.

Nah, usaha keripik singkong ini ternyata masih menyisakan keuntungan lain. Sisa ampas dari rendaman singkong yang telah diiris menghasilkan tepung pati singkong. Setiap kuintalnya bisa terkumpul 1 kilogram. Setelah dikeringkan, tepung tapioka ini bisa dipakai olahan makanan lain seperti cenil atau membuat kerupuk.” Biasanya bakul cenil di pasar yang sering membeli tepung ini,” jelasnya. Wah, hebat bukan. Dari awal usaha hingga sisa dari proses pembuatan keripik singkong terus mencetak keuntungan. Meski tak banyak tapi ternyata mampu menggugah semangat Pak Acus untuk terus berusaha tanpa kenal menyerah. Hasilnya, ia punya rumah sederhana, sepeda motor, mobil pick up pun sudah dalam genggaman. Kebutuhan keluarga dan tiga orang anaknya pun tercukupi. Alhamdulillah… !!! Nah, tak perlu ragu untuk banting setir usaha. Yang penting tetap giat berusaha dan tak mudah putus asa seperti Pak Acus alias Sudjono. (doni)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: DERAP Ajuk Ladang, Edisi 186, Th. 2008, hlm. 12-14

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Keripik Singkong, Kabupaten Nganjuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s