Angkringan Merambah Kota Surabaya

Kuliner Angkringan Mulai Merambah Kota  Surabaya.

Kota Surabaya tak hanya dikenal sebagai kota pahlawan, tetapi juga sebagai kota Metropolitan setelah Jakarta. Sebagai kota metropolitan berbagai macam kebutuhan masyarakat bisa ditemui, tak terkecuali bagi pecinta kuliner warga Surabaya.

Semakin banyaknya peminat kuliner di Surabaya, berbagai macam makanan baik modern maupun tradisional dari berbagai daerah di seluruh Indonesia tersedia mulai dari harga yang mahal hingga yang termurahpun mulai merambah di kota ini. Seperti misal nasi pecel, sego sambel atau penyetan (nasi sambel penyetan – red) dapat dijumpai di pinggir-pinggir jalanan Surabaya dengan harga yang terjangkau, hingga restoran bintang lima menyediakan makanan dengan harga yang tinggi.

Melihat geliat dunia kuliner yang semakin marak di Surabaya, saat ini mulai banyak ditemui tempat-tempat para pencinta kuliner yang tergolong murah meriah saat di malam hari. Tempat ini cocok bagi pencinta makan sambil berbincang tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu layaknya resto atau rumah makan. Dunia kuliner ini namanya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat  Surabaya yakni angkringan. Kalau dulu angkringan semula hanya ada di kota Jogjakarta dan Solo, namun saat ini mulai bisa ditemukan di beberapa kota di Jawa termasuk Surabaya. Meski belum banyak,tapi angkringan mudah di temui di sekitar kampus seperti Universitas Surabaya  (Ubaya), Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag), Universitas Wijaya Kusuma (UWK), dan sebagainya.

ANGKRINGAN

Angkringan boleh dikata sudah mulai menjamur di Surabaya ini. Mulai dari konsep yang mewah, menengah, sampai konsep yang sama dengan angkringan yang ada di Jogja pada umumnya. Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ‘Angkring’ yang artinya duduk santai) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogjakarta Gerobag angkringan biasa ditutupi dengan kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Beroperasi mulai sore hari, ia mengandalkan penerangan tradisional yaitu senthir, dan juga dibantu oleh terangnya  lampu jalan. Tapi jika tempat duduk sudah penuh, penjual angkringan dengan sigap akan menggelar tikar yang di lipat dalam bawah gerobak.

Makanan yang dijual meliputi sego kucing (nasi kucing), aneka macam gorengan, sate usus (ayam), sate r puyuh, sate rempelo ati, sate kepala ayam, aneka macam keripik dan camilan tradisional. Minuman yang dijual pun beraneka macam seperti teh, wedang jahe, tape, dan susu. Biasanya penjual membawa 3 buah cerek yang berisi wedang jahe, teh dan air putih . Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, Antar pembeli dan penjual sering terlihat berbincang-bincang dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan.

Angkringan juga terkenal sebagai tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa membeda- bedakan strata sosial. Mereka menikmati makanan sambil bebas berbincang- bincang hingga larut malam meskipun tak saling kenal tentang berbagai hal atau kadang berdiskusi tentang topik- topik yang serius. Harganya yang murah dan tempatnya yang santai membuat angkringan sangat populer di tengah kota sebagai tempat persinggahan untuk mengusir lapar atau sekedar melepas lelah.

Tim Prasetya pun telah mengunjungi dan merasakan kenikmatannya makanan khas ala angkringan. Ada 2 angkringan yang dicoba yaitu Iki Angkringan dan Wedang  yang berada di tepi Jalan Raya Jemursari Surabaya. Para penjual mulai beropearsi pukul 18,00 sampai dini hari.

Di tempat ini sangat nyaman bersili untuk ngopi sambil beri dengan teman-teman atau rekan kerja untuk menikmati suasana malam Surabaya. Sebut saja, Sofian Efendi yang biasa dipanggil Mas Gendon (17 tahun) kurang lebih 2 tahun membuka usaha yang terinspirasi saat jalan-jalan ke Jogjakarta. Pada saat dibuka angkringan tersebut hanya menyediakan nasi kucing dengan beberapa lauk pauk saja.

Awalnya dia hanya membantu Pakdenya membuka angkringan. Akhirnya dia dapat meneruskan usaha yang dibuka oleh Pakde nya”Paling banyak pengunjung saat malam minggu atau malam libur. Saat sepi paling banyak terjual 40 bungkus. Namun saat Sabtu dan Minggu, nasi kucing bisa terjual sebanyak lebih 100 bungkus,” terangnya sambil melayani pelanggan menuang Wedang Uwuh yang berwarna kemerahan.

Selain nasi kucing dan lauk Ankringan ini mempunyai sajian khusus yaitu Wedang Uwuh, yaitu minuman kesehatan khas Imogiri yang berisi ramuan campuran antara kayu manis, jahe, daun salam dan daun sirih Wedang ini memiliki berbagai khasiat antara lain untuk menurunkan kolestrol, sebagai antioksidan, menyegarkan badan melancarkan aliran darah serta menyembuhkan dan mencegah masuk angin. Setelah minum, rasa hangat bercampur dengan aroma kayu manis dan jahe, sehingga membuat tenggorokan dan tubuh kita menjadi hangat.

Motto Angkringan di daerah ini “Harga Merakyat, Menunya Mantap” Menu yang tersedia rasanya dijamin mantap dengan harga terjangkau dan bersahabat. Sebut saja Nasi Kucing kita hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 1.000, aneka sate rata-rata Rp 1.300 seperti: sate usus, kerang, kikil, kepala ayam, ati rempela, telur puyuh,,-, aneka gorengan Rp .1000,-. Sedang harga aneka wedang seperti Kopi joss, kopi ireng, kopi mocca, capucino, wedang uwuh, wedang jeruk, sinom, beras kencur, bandrek, teh wedang jahe berkisar Rp 1.500 sampai Rp 3.000,- Bagi penggemar minuman dingin, di angkringan ini juga tersedia Es Gooday Freez, Es Temulawak Es Beras Kencur, dan lain sebagianya”Yang paling mahal adalah Teh Poci yaitu Rp8.000,- Karena disajikan satu

poci bisa untuk beberapa gelas ujarnya. Salah satu pengunjung, Gede (23 tahun) yang saat itu sedang menikmati
wedang wuwuh bersama adiknya. ” Lokasi yang strategis itu yang membuat angkringan ini rame. Yang paling khas disini adalah sego kucing dengan sambal yang mantap serta wedang uwuh. Saat diminum rasa hangat menjulur keseluruh tubuh. Mungkin banyak mengandung renpah-rempah ya. Sangat cocok untuk udara
malam yang dingin,” ujar Gede. Wedang yang ditenggarai dapat menurunkan kolesterol serta sebagai anti oksidan pun dapat anda nikmati hanya dengan harga Rp 3.500/ gelas.

Gendon pemilik angkringan menceriterakan pengalaman yang tidak terlupakan. Ada salah pembeli yang mengadakan pesta ulang tahun melakukan pemesanan di angkringan miliknya. Karena dia melayani sendiri, sehingga merasa kuwalahan. Pesanan yang harusnya terpisah, tercampur dengan pembeli lainnya. Sipemesan pun komplain, akhirnya sejak itu selain sigap bekerja, mental pun harus disiapkan untuk melayani pelanggan. Tak hanya itu, angkringan lain yang diberi nama Mercon Ankringan yang dikomandoni Arif Julianto (25 th) telah berjualan selam 3  tahun. Selama itu dia mempunyai beberapa angkringan yaitu di Tenggilis, Jemur sari dan Klampis. Setelah mencari tempat yang dinilai strategis, gampang dijumpai kumpulan anak-anak muda selama beberapa minggu maka diputuskan daerah Tenggilis sebagai tempat yang pertama kali berjualan.

Dengan tekad menghidupi keluarga dan menata masa depan yang lebih baik, Arif pun memulai usaha angkringannya dengan menu sederhana yaitu sego kucing. Untuk menu saat ini lebih variasi yaitu berbagai macam sego kucing misalnya : sego kucing sambel teri, sego kucing sambel pindang dan sego kucing tempe dan tahu yang semuanya dipatok harga Rp 1000,- Pendamping sego pun terdapat berbagai sate seperti sate kerang, sate kikil, sate telur puyuh. Seharga Rp 2000. Tidak ketinggalan tahu dan tempe bacem serta ayam goreng yang dipotong per bagia. “Harga ayam bacem rata-rat rp 2000,- kecuali sayam bacem agak mahal yaitu Rp 3000, terang Arif. Namun bagi anda yang hanya ingin camilan saja disana tersedia berbagai macam gorengan seperti ote-ote, tempe dan tahu hanya rp 500,- Kendala yang dihadapi, yakni saat musim hujan, selain sepi pengunjung juga dia harus membereskan barang-barang seperti kursi, tikar dan kompor agar tidak terkena hujan. “Meski sepi tapi ada saja pembeli yang datang sambil menunggu hujan reda,” katanya sambil tersenyum. ❖

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume IV, No. 45, September 2012, hlm.  30-33

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Angkringan Merambah Kota Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s