Bebek Madura, Kabupaten Bangkalan

Egalitirinisme Bebek Madura yang Panas

bebek madura-Pusaka JawatimuranUwek…uwek…uwek. Itu suara bebek saat hidup, tetapi setelah bebek dipotong dan dimasak dengan ramuan bumbu khas Madura, rasanya tak tertandingi; gurih, pedas bercampur kecut yang berasal dari manggamuda. Saat itu juga, keringat penggemar kuliner mengucur deras diiringi mulut mendesis-desis terserang rasa pedas.

Itulah dahsyatnya masakan bebek Madura. Nikmatnya tidak hilang secepat perputaran waktu, terkenang sampai pulang. Bebek turut mengibarkan Madura sebagai daerah panas, pertempuran beragam bumbu yang bercampur aduk dalam potongan daging menawarkan rasa seorang pemberani.

“Keberanian merasakan panasnya sambal bebek Madura membuat setiap orang ketagihan untuk menikmati terus hawa panas Madura lewat masakan bebeknya,” kata seorang penggemar bebek Madura M Basuki asal Gresik. Lihatlah mislanya di warung bebek Sinjay, di Desa Ketengan, Burneh, Bangkalan. Pembeli datang silih berganti mengantri untuk menikmati kekhasan masakan asli orang Madura. Buka setiap hari, tetapi sedikit terlambat semua menu yang disajikan telah habis diserbu para penggemar kuliner yang kadang datang ke Ma dura hanya untuk menikmati bebek Sinjay.

Warung bebek Sinjay awalnya dibangun sederhana di pinggir jalan raya Bangkalan-Sampang. Berkat masakannnya yang sensasional membuat lidah bergoyang, apalagi daging bebeknya yang empuk nan gurih ‘ ditambah sambalnya yang pedas bercampur dengan irisan buang mangga muda membuat air liur mengalir deras.

Itu sebabnya, konsumennya pun setiap hari membludak apalagi pada hari libur, parkir mobil semrawut berebut tempat agar dengan segera bisa menikmati sajian bebek Sinjay. Dengan mengeluarkan uang berkisar Rp 20 ribu sudah mendapatkan menu komplit dan istimewa dan setiap pengunjung yang datang sebagian besar pulang menenteng bungkusan nasi bebek Sinjay.

Ledakan jumlah pengunjung itu turut meledakkan jumlah bebek yang harus dipotong setiap harinya yang mencapai 700 sampai 800 ekor. Ini sebuah angka cukup tinggi, se­bab jika dihitung setiap hari warung bebek sinjay mampu mengantongi lebih dari Rp 25 juta/hari. “Nikamati semua pemberian Allah swt dan di­niatkan semua usahanya untuk iba­dah,” kata Muslihah pemilik warung Bebek Sinjay.

Sebagai warung yang sudah terke­nal dan memiliki penggemar dari pelbagai profesi, dia enggan mem­beberkan kunci rahasia masakan­nya. Pengunjung hanya bisa melihat bagaimana bebek disajikan dan cara penyajiannya. “Anehnya, meskipun layanannya semrawut warung bebek ini tetap diserbu dan siapa pun tetap sabar ngantri cukup lama,” kata seorang pebisnis asal Surabaya, (nf)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 07, 15 Agustus – 15 September 2012, hlm. 49

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Bebek Madura, Kabupaten Bangkalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s