Goa Selomangleng, Kota kediri

Goa Selomangleng Tempat Suci Dewi Kilisuci

Pusaka JawatimuranWisata Selomangleng adalah wisata alam di wilayah kotamadya Kediri, tepatnya berada di kaki Gunung Klotok. Desa Waung, berjarak kira-kira tiga km dari pusat Kota Kediri. Goa Selomangleng di kota Kediri ini menurut sejarah merupakan goa tempat pertapaan “Dewi Kilisuci”.

Mengapa dinamakan Selomangleng karena letaknya tepat berada di lereng bukit, selo artinya batu, sedang Mangleng berarti miring. Selomangleng artinya Batu yang miring dari atas permukaan tanah. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam berukuran cukup besar dan nampak menyolok terlihat dari kejauhan.

Memang, jika dilihat sepintas tidak ada yang istimewa dari gua batu ini. Keunikan baru bisa terlihat setelah kita mendekati pintu gua. Beberapa  meter di bawah mulut Goa terdapat bongkahan batu-batu seolah berserakan. Sebagaian diantaranya nampak terdapat pahatan, menandakan bahwa tempat ini pernah disentuh oleh manusia. Berbagai corak relief menghiasi dinding luar gua diantaranya ada yang berbentuk manusia.

Bila kita melengok lebih dalam lagi, suasana gua nampak gelap gulita, ditambah dengan aroma dupa yang cukup menyengat seolah ikut menyambut pengunjung. Bahkan tidak heran bila ada beberapa pengunjung merasa ketakutan sehingga berfikir panjang sebelum memutuskan masuk goa. Kesan mistis terasa kental saat berada di dalamnya. Beberapa pengunjung nampak buru-buru keluar setelah memasuki gua, karena tidak kuat dengan aroma dupa yang menyengat.

Pusaka Jawatimuran aGua batuan andesit ini menjadikannya kedap air. Tidak ada stalagtit maupun stalagmite yang umumnya dijumpai pada gua-gua alam lainnya. Di gua ini terdapat tiga ruangan, mulai dari pintu masuk kita tiba di ruang utama yang tidak begitu lebar. Setelah itu ada pintu kecil disisi kiri dan kanan untuk menuju ruangan lain.

Di dalam gua banyak dijumpai relief yang menghiasi dinding, bila ingin melihat dengan jelas dibutuhkan penerangan tambahan. Seperti saya sendiri menggunakan sinar lampu dari telepon genggam yang kebetulan bisa difungsikan sebagai lampu penerangan (senter). Pada dasar lantai banyak ditemukan bunga-bunga sesajen berwarna-warni yang kelihatan masih segar. Ini pertanda bahwa tempat itu sering digunakan untuk bertapa atau tirakat bagi kalangan masyarakat tertentu.

Saat pengunjung ingin memasuki ruangan sebelah kiri dari pintu masuk gua, dia harus sedikit merangkak karena ukuran pintunya cukup kecil. Sebab, ketika saya mencoba memasuki ruangan tersebut, praktis cahaya semakin minim karena tidak adanya penerangan dalam gua. Selain itu, ruangannya yang kecil dengan atap yang rendah sehingga kesan sempit dan supek mendominasi suasana dalam ruangan…. Sehingga sulit sekali untuk melihat apa saja yang ada di dalam ruangan.  Ketika mencoba menelusuri dinding gua dengan penerangan dari telpon genggam, barulah terlihat bagian bawah dalam gua tersebut juga memiliki relief-relief yang senada dengan bagian luar gua.

Berbeda dengan ruang sebelah kiri pada sisi kanan gua, terdapat relief pada bagian atas dari pintu masuk. Mirip dengan relief yang seolah menghiasi hagian atas dari pintu masuk candi. Ruangan ini sedikit lebih lebar dari sisi kiri. Pada dinding gua, terdapat bagian yang menonjol dengan cerukan kecil di bagian bawahnya, membentuk tungku. Sebatang dupa yang masih menyala nampak berada di dalam tungku tersebut, menebarkan aroma menyengat yang memenuhi  seluruh ruangan. Relief-relief  yang ada masih bisa terlihat cukup jelas untuk bisa dinikmati.

Legenda Goa Silomangleng
Dari cerita yang beredar, Gua Selomangleng dulu pernah digunakan oleh Dewi Kilisuci sebagai tempat pertapaan. Dewi Kilisuci adalah putri mahkota Raja Erlangga yang menolak menerima tahta kerajaan yang diwariskan kepadanya, dan lebih memilih menjauhkan diri dari kehidupan dunia dengan cara melakukan tapabrata di Gua Selomangleng.

Pusaka Jawatimuran selomanglengLegenda ini sangat erat hubungannya dengan legenda Gunung Kelud. Pada jaman dahulu di Kediri bertahtalah seorang raja bernama Djojoamiluhur. Dalam masa pemerintahannya, Kerajaan Kediri mengalami kejayaan, penduduknya hidup layak dan negaranya aman. Dalam melaksanakan pemerintahan, Sang Raja dibantu oleh tiga orang yang dipercaya, masing-masing bernama Tunggulwulung, Butolocoyo dan seorang Panembahan Sakti yang bernama Empu Baradah atau yang terkenal dengan sebutan Mbah Pradah. Sang Raja Djojoamiluhur dikaruniai tiga orang anak, yaitu seorang putri yang sangat cantik bernama Dewi Kilisuci dan dua orang putra yang rupawan bernama Djojoamiseso dan Djojoamiseno

Pada saat Sang Dewi menginjak dewasa, banyak raja-raja dari daerah lain yang ingin mempersuntingnya. Hal ini membuat sang raja sulit untuk menentukan salah satu dari sekian banyak pelamar Sang Dewi. Maka akhirnya untuk menjaga keamanan, ketentraman serta ketenangan rakyat di Kerajaan Kediri, sang raja mengadakan sayembara perang tanding. Bagi siapa saja yang menang dalam perang tanding natinya, dialah yang akan diterima dan dijadikan suami Dewi Kilisuci. Namun dalam kenyataannya dalam sayembara tersebut dimenangkan oleh seorang raja yang berparas jelek yang berasal dari pesisir timur daerah Banyuwangi, wajahnya hampir menyerupai muka kerbau dan kepalanya bertanduk, sehingga sesuai dengan bentuknya ia mendapat sebutan Djotosuro.

Begitu mengetahui bahwa pemenang sayembara perang tanding adalah Djotosuro yang berparas jelek, Dewi Kilisuci sangat sedih dan tidak mau dipersunting. Untuk menolak lamaran Djotosuro secara langsung Kilisuci tidak berani, maka ia menggunakan siasat untuk menolak lamaran Djotosuro. Caranya Kilisuci mempunyai permintaan agar dibuatkan sumur di atas puncak Gunung Kelud yang kedalaman sumurnya diukur dengan ukuran suara. Apabila dalam menggali sumur tersebut Djotosuro dipanggil dari luar sudah tidak mendengar suara orang yang memanggil, maka sang dewi baru mau menerima lamarannya dan mau dijadikan istri. Betapapun beratnya permintaan Kilisuci, Djotosuro tetap menyanggupi demi dapatnya menikah dengan sang pujaan hati.

Konon di Goa Selomangleng Putri Kediri ini menghabiskan sisa hidupnya untuk bertapa, meminta kepada Yang Kuasa agar rakyat Kediri senantiasa terhindar dari marabahaya. Ia pun juga rela mengorbankan hidupnya untuk tidak menikah demi masyarakat Kota Kediri. Tak heran jika itu selama ini masyarakat Kediri mengkeramatkan Goa Selomangleng sebagai tempat suci, karena itu bagi pasangan yang masih pacaran dipantangkan pergi ke Selomangleng apalagi sampai masuk ke dalam goa, karena dipastikan hubungan yang terbina akan putus di tengah jalan.

Rute Menuju Goa Selomangleng
Tempat ini bisa dijangkau dengan kendaraan darat/kendaraan bermotor sekitar 10 menit. Dari alun-alun Kota Kediri dengan menggunakan angkutan kota (angkot) lyn A cukup dengan tarip Rp 3.000 sudah sampai di goa.

Rute ke Selomangleng yang paling mudah ditempuh dari Bundaran Taman Sekartaji, dengan ikuti jalan raya ke arah Barat, lurus sampai melewati dua perempatan yaitu perempatan Jl. Penanggungan dan perempatan Sukorame, lurus ke arah barat sampai menemukan gerbang masuk Kawasan Wisata Selomangleng.

Sekarang ini lokasi wisata Selomangleng telah dikembangkan sebagai wisata keluarga, Selain terdapat Musium juga telah di bangun kolam renang untuk tempat pemandian keluarga dengan fasilitas lebih dari kolam pemandian yang ada di kota kediri. Selain bernuansa alam, kolam-kolamnya juga menyediakan fasilitas khusus bagi anak-anak seperti seluncuran, kolam khusus anak-anak dan masih banyak yang lainnya. Kolam renang Selomangleng juga menerapkan fasilitas keamanan yang cukup ketat, terbukti dengan banyaknya pelampung dan banyaknya petugas kolam. Jadi anda tidak perlu kuatir dengan keselamatan keluarga. Sebelum masuk pintu gerbang kawasan wisata Goa Selomangleng dan sekitarnya, petugas akan menarik retribusi sebesar Rp 4000,-

Kawasan wisata Goa Selomangleng juga menerapkan Sapta Pesona Wisata yang terdiri dari tujuh unsur yaitu: Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah Tamah dan Kenangan. Upaya ini dilakukan untuk menjadi tujuan wisata keluarga yang menarik dan layak dikunjungi.

Kolam renang bernuansa alam dengan latar belakang pemandangan Gunung Klotok. Pengunjung bisa menikmati pemandangan yang indah dan merasakan udara pegunungan yang segar.

Pagi ini saya menjadi pengunjung pertama di kolam renang. Pada kolam renang yang buka setiap jam 06.30 sampai jam 17.00 dan tiap hari  Jum’at, kolam renang tutup/libur. Untuk bisa masuk pengunjung dewasa dikenakan tiket sebesar Rp 3000,-, dan anak-anak Rp 2000,- Kita tidak akan rugi, karena fasilitas dan sarana yang diberikan begitu bagus.

Guna menambah daya tarik Goa Selomangling, pada tahun 1992 dibangun Museum Airlangga yang di dalamnya tersimpan sejumlah temuan benda purbakala pada masa Kerajaan Kediri. Diantaranya, fragmen yoni, umpak, dan benda purbakala lainnya serta kereta peninggalan Kerajaan Kediri. Seluruh benda tersebut tersimpan rapi di dalam Museum Airlangga Pilihan yang tepat untuk belibur bersama keluarga .. (heny)

Menghitung Anak Tagga Bukit Maskumambang
Perjalanan Surabaya–Kediri, lancar dan menyenangkan. Kota demi kota terlewati, Mojokerto, Mojoagung, Jombang, Kertosono, Purwoasri berakhir di Kediri.

Kawasan wisata Selomangleng terletak di bagian barat kota Kediri (di wilayah Barat sungai Brantas). Dari pusat kota Kediri berjarak sekitar 3 kilometer. Berenang di Selomangleng menjadi acara wajib buat Hanif bila berlibur di Kediri.

Puas berenang di pagi yang cerah, kami jalan-jalan ke Goa Selomangleng. Menurut cerita rakyat, Goa Selomangleng merupakan tempat pertapaan Dewi Kilisuci. Seorang putri dari Kerajaan Kediri yang pada akhir hayatnya memilih untuk menyepi dan menjauhkan diri dari keramaian dunia. Banyak relief-relief yang terpahat di dinding goa, salah satunya relief Dewi Kilisuci. Kami meneruskan langkah menuju Bukit Maskumambang. Di puncak bukit Maskumambang terdapat Astana Boncolono. Sebuah kompleks makam leluhur Eyang Boncolono. Untuk menuju ke puncak, sudah dibangun tangga dari batu yang dibagi dua jalur. Anak tangga yang meliuk-liuk panjang, sampai ke puncak bukit Maskumambang.

Dengan semangat kami menghitung satu demi satu anak tangga yang telah kami pijak. Satu, dua, tiga, … lima puluh … Kami beristirahat dulu, meredakan nafas yang- tersengal. Lima puluh satu … Delapan puluh lima … Kami berhenti lagi. Angin bertiup keneang. Tenggorokan terasa kering. Hanif masih semangat menaiki anak tangga. Seratus lima puluh … !!!

Kami berhenti di anak tangga ke seratus lima puluh. Sudah eukup tinggi buat ananda Hanif. Kami beristirahat di lahan yang agak lapang. Melihat langit biru, merasakan sejuknya semilir angin pegunungan. Dari sini pemandangan terlihat indah. Gunung Klotok yang menjulang perkasa, kawasan wisata Selomangleng, hamparan sawah-sawah yang membentang luas dan pemandangan kota Kediri yang kecil bagai liliput.

Dalam perjalanan menuju tempat parkir, kami mengunjungi Museum Airlangga. Lokasi museum terletak tidak jauh dari Goa Selomangleng. Museum Airlangga mengoleksi benda-benda bersejarah peninggalan jaman purbakala diantaranya artefak, prasasti dan arca-arca jaman kerajaan Kadiri.

Oleh-oleh Khas Kediri Dari kawasan Wisata Selomangleng, kami meluneur ke Jl. Patimura untuk mencari oleh-oleh. Di sepanjang Jl. Patimura berjejer puluhan toko yang menyediakan berbagai oleh-oleh khas Kediri, antara lain: tahu takwa (tahu kuning), getuk pisang, stik tahu, keripik tahu, kopi racik, kerupuk goreng pasir plus petisnya dan masih banyak lagi.

Masih pada lokasi yang sama disediakan beberapa mainan anak-anak dan kereta wisata yang bisa dinaiki dengan biaya murah sambil menikmati keindahan alam kawasan wisata Selomangleng. Pada hari-hari tertentu  terutama pada hari libur diadakan hiburan bagi semua pengunjung, baik anak-anak maupun orang dewasa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume II , No. 20, Agustus 2010, hlm. 30.

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Goa Selomangleng, Kota kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s