Wisata Mangrove, Kota Probolinggo

Mengubah Lokasi Muara Sampah Menjadi Tempat Wisata. Dulu penuh sampah, kini berbasis wisata bahari dan pantai yang menyenangkan

wisata-mangrove-kota-probolinggo0001 (1)Di Kota Probolinggo, terdapat wisata Kawasan hutan mangrove (mangroveforest) merupakan kawasan konservasi, dan sudah menjadi kawasan hutan lindung yang dipenuhi pohon bakau ini mulai dikembangkan untuk digunakan sebagai objek wisata alternatif yang menarik bagi wisatawan dengan nuansa yang berbeda. Kawasan wisata ini terdapat di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, yang menyajikan pemandangan hutan mangrove dan pesisir pantai yang indah dan sejuk tak jauh dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) serta Pelabuhan Tanjung Tembaga. Tempat ini layak untuk mewujudkan sektor pariwisata berbasis wisata bahari dan pantai yang menyenangkan.

Bahkan Pemkot Probolinggo telah memasukkan program wisata ini dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPMJD) tahun 2006 – 2009 . Pada , Jum’at 17 Maret 2013 investor – PT Beejay Sarana Hiburan bertemu Pemkot Probolinggo melakukan kesepakatan kerja sama berminat untuk mengembangkan dan menawarkan konsep kawasan hutan mangrove di jadikan ekowisata di Kota Probolinggo. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan MoU oleh Direktur CV Beejay Sarana Hiburan Benjamin M dengan Walikota HM. Buchori di Taman Wisata Studi Lingkungan.

wisata-mangrove-kota-probolinggo0007Benjamin Mangitung, salah satu investor asal Makasar yang bermukin di Surabaya menjanjikan potensi hutan mangrove sepanjang 7 km akan disulap menjadi wisata mangrove dan wisata bahari dilengkapi sarana resort tepi pantai, penyediaan restoran terapung, pengadaan sarana permainan air seperti parasailing, dan banana boat. Selain itu akan dikembangkan pula sarana pemancingan dan pembudidayaan ikan, pengembangan pusat kegiatan ekowisata berbasis edukasi dan hiburan serta riset tentang hutan mangrove sepanjang  1,5 km.

Untuk pemanfaatan hutan mangrove sebagai kawasan wisata lengkap dengan resort, wisata air, kuliner, pembibitan dan penelitian ekosistem hutan bakau. Lahan yang dibutuhkan untuk wisata mangrove ini seluas 1.500 meter persegi. Yang 500 meter di sisi barat untuk penangkaran suaka 500 meter sisi timur untuk pembibitan dan sisanya untuk resort dan restoran “Mangrove akan kami hijaukan lagi sampai ketebalannya 200 – 300 meter. ” , pa’ Benjamin.

Benjamin mengungkapkan, ketika pertama kali dirinya datang di mangrove tepatnya Maret 2010, tantangan besar yang menghadang yaitu banyaknya sampah diantara tumbuhan mangrove. Masyarakat sekitar, banyak yang membuang sampah sembarangan, kurang memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan.

“Pertama kali yang saya lakukan membuat bendungan untuk menghambat sampah  yang hanyut dari kali Banger. Yang paling banyak adalah sampah rumah tangga. Melihat keadaan seperti itu saya bertekad akan membuat area ini dari tumpukan sampah menjadi tempat wisata, khususnya ekowisata. Saya akan ubah sampah-sampah yang terdapat di hutan mangrove menjadi emas,” ujarnya.

wisata-mangrove-kota-probolinggo0002Djtemui redaksi Prasetya, Benjamin memamparkan, saat ini yang tengah dibangun adalah restoran terapung terbesar di Indonesia dengan menyajikan menu dasar sea food. “Dengan menggunakan dome sebanyak 5 buah akan mampu menampung sebanyak 500 orang pengunjung. Ditempat ini akan lebih indah saat air pasang. Sore hari bisa menikmati matahari tenggelam dan angin pantai yang sejuk/’terangnya. Di resto ini dilengkapi dengan kipas angin besar untuk menghindari “mati angin” dimana bisa terjadi tidak ada angin sama sekali serta toilet yang bernuansa alam.

Kawasan hutan mangrove juga dileng­kapi dengan gazebo sebagai tempat isti- rahat pengunjung dan tempat untuk me­lihat pemandangan pantai. “Sepanjang track kami memberikan kesempatan pada masyarakat untuk berjualan makanan ringan. Pembeli harus makan ditempat. agar tidak membuang bungkus makanan sem­barangan,” jelasnya.

Ke depan jika tanaman mangrove sudah tumbuh tinggi, masyarakat bisa berperahu kedalam semak-semak menuju ke resort atau ke pantai. “Bisa anda bayangkan jika tanaman sudah tumbuh 1-2 meter pengunjung bisa berperahu diantara semak-semak,” ungkapnya.

“Saya punya mimpi besar akan menjadikan tempat ini ramai dikunjungi wisata baik siang maupun malam hari,” harapnya. Salah satu caranya, mengadopsi pencahayaan seperti di Batu Night Spektaculer (BNS) dengan menempatkan lampion berbagai bentuk binatang dan animasi sepanjang jalan masuk sampai ke resort serta menempatkan sejuta lampu kecil yang telah dipesannya yang disebar di pohon-pohon mangrove. “Jika pohon itu sudah tinggi lampu tersebut laksana kunang-kunang yang beterbangan,” imbuhnya.

Pihak Bee Jay pun memaparkan, kawasan wisata itu terhampar di kawasan hutan mangrove sepanjang 1.500 meter di Kelurahan Pilang. “Kawasan barat sepanjang 500 meter untuk penangkaran satwa, 500 meter di timur untuk pembibitan mangrove, dan 500 meter di tengah-tengah untuk resortyang dilengkapi bungalow,” ujarnya.

Kawasan wisata itu juga bakal dilengkapi tempat rekreasi air seperti pemancingan dan mendayung (berperahu). Investor juga bakal membangun boom-boom car, wisata outbond, jalan setapak, hingga restoran terapung. Selain itu, pihaknya ingin mengedukasi masyarakat untuk konservasi lingkungan, misalnya dengan hanya membayar Rp 5000,- masyarakat dapat menanam tumbuhan mangrove dan diberi namanya sendiri. “Tentunya selain tumbuhan kami lengkapi dengan sepatu boot, beberapa tahun kemudian mereka bisa melihat kembali tumbuhan yang ditanamnya,” tutur Benjamin. Selain itu kami mengedukasi anak-anak dengan menggelar cooking class dengan berbahan dasar ikan dengan diberi pengetahuan penting makan ikan. “Mereka kita ajak masak ikan di buat nugget kemudian dimakan bersama.nnak. Yang tadinya tidak menjadi suka, sehingga gizi dan kecerdasan anak-anak meningkat,” paprnya.

Dalam pembanguan Bee Jay melibatkan masyarakat dan nelayan setempat di kawasan wisata terpadu. “Masyarakat kami libatkan dalam pembibitan dan penanaman mangrove, Nelayan bisa menyewakan perahunya kepada pengunjung. Untuk memenuhi kebutuhan ikan di restoran, kami membelinya dari nelayan setempat,” ujarnya.

Benjamin menargetkan, proyek wisata terpadu itu bakal rampung dalam tiga tahun ke depan “Jika mereka mau ke Bali melalui darat bisa singgah disini,” paparnya. Di akhir tahun kedua (2013), wisata terpadu sudah bisa dikunjungi sambil terus dikembangkan.

Untuk mengembangkannya, kendala di lapangan selain biaya juga faktor alam yaitu pasang  surutnya air. “Kami baru bisa bekerja saat air surut,” kilahnya. Meskipun demikian, ini tidak menghalangi langkahnya untuk terus membangun impiannya. “Saya tidak mengharap banyak dari masyarakat. Saya ingin hasil karya ini diapresaiasi dan dinikmati oleh pengunjung baik lokal maupun asing membuat kami bangga,” harapnya.*

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Prasetya,  volume V, No. 50, Februari 2013, hlm. 32-34

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Wisata Mangrove, Kota Probolinggo

  1. adur says:

    di mana ini tempatnya?

  2. Pingback: Mangrove, wisata Probolinggo | PENGABDIAN, INOVASI, PRESTASI, BERGUNA DAN BERTAQWA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s