Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo

Taman Nasional Baluran berada di ujung timur Pulau Jawa. Bagian utara berbatasan dengan Selat Madura dan bagian timur berbatasan dangan Selat Bali. Batas laut adalah garis 500 m dari pantai surut terendah. Bagian selatan dan barat dibatasi oleh tepi luar Sungai Bajulmati dan Sungai Kelokoran. Serta Desa Karangtekok/ Sumberanyar di barat laut dan Desa Wonorejo dan Pandean di timur laut. Secara adiministratif Taman Nasional Baluran termasuk Kabupaten Situbondo. Secara geografis terletak di antara 7°29’10’ – 7°55’55” LS dan 114°29’10’ – 114°39’10’BT. Luas Taman Nasional Baluran menurut pengumuman Menteri Pertanian pada tahun 1980 adalah 25.000 ha. Kemudian diusulkan menjadi 27.868 ha terdiri dari 23.713 ha darat dan 4.155 ha lautan.

Taman Nasional Baluran membentuk segi empat, Gunung Baluran yang sudah tidak aktif  berada ditengah. Dinding kawah yang mempunyai ketinggian antara 900 -1.247 m membatasi kaldera yang luas sedalam 600 m. Di sisi timur kawah terdapat daerah terbuka yang dalam di mana Sungai Kacip keluar dari gunung pada ketinggian 150 m di atas permukaan laut. Lereng gunung ditumbuhi hutan musim. Kebanyakan daerah yang lebih rendah adalah dataran dan sedikit bergelombang. Kecuali bukit Glengseran (124m), Bekol (64 m), Priuk (211 m) serta daerah pantai terdapat karang terjal. Daerah rendah sedikit berombak diliputi padang savana dengan diselingi pepohonan. Dan sedikit daerah yang ditumbuhi semak serta tumbuhan merambat.

Pegunungan Ijen, 35 km sebelah selatan Baluran. Diduga bagian timur yang lebih tinggi dari gunung tersebut telah meletus. Bagian Tengah pegunungan terbagi-bagi membentuk kaldera yang dalam dengan tabung kawah yang memadat dasarnya. Lereng gunung dibelah lembah yang dalam di bagian gunung yang tinggi, dan jurang-jurang berbatu di bagian yang rendah. Jurang- jurang tersebut berair di musim hujan dan kering di musim kemarau.

Berdasarkan latar belakang geologi, terdapat 2 jenis. tanah di Baluran, yaitu tanah pegunungan dan dasar laut. Walaupun subur, tanah tersebut tidak baik untuk persawahan. karena air tidak mencukupi. Tanah-tanah hitam yang meliputi setengah dataran rendah yang ditumbuhi rumput savana sangat subur. Hal itu membantu keaneka- ragaman kekayaan makanan yang disenangi oleh binatang pemakan rumput. Sedangkan tanah dasar laut terbatas pada daerah kecil sepanjang pantai pada dataran pasir dan di daerah mangrove.

Manuju Taman Nasional Baluran, sangat mudah bisa ditempuh dari beberapa kota besar. Jalan raya sepanjang pantai utara dan timur Jawa membatasi bagian selatan dan barat kawasan ini. Stasiun utama kereta api terdapat di Banyuwangi (sejauh 32 km) dan Surabaya (sejauh 250 km). Perjalanan dari Surabaya ke Baluran dengan bus biasanya sekitar 5-6 jam. Sedangkan dari Denpasar ke Baluran kurang dari 4 jam. Termasuk menyeberangi Selat Bali dengan kapal ferry.

Pintu masuk Taman Nasional Baluran di Karangtekok dan Wonorejo. Jalan sepanjang 12 km menghubungkan pintu masuk Wonorejo dengan pesanggrahan di Kelor/Bama. Jalan sepanjang 4 km dari Bekol ke pos jaga lama di Talpat.

Sepanjang pantai Wonorejo/ Pandean, bagian tenggara sampai Sumberanyar/Gatel, bagian barat laut. Di pinggir barat dari hutan jati ke hutan pegunungan, terdapat banyak jalan setapak. Dari Karangtekok menembus daerah Klosot dari sebelah utara sampai kawah,  juga terdapat jalan setapak sejauh 15 km . Walaupun di dalam Taman Nasional tidak ada pelabuhan, perahu-perahu dapat berlabuh hampir di semua pantai. Sedangkan pelabuhan kecil terdapat di Pandean.

Taman Nasional Baluran beriklim musim dengan musim kering yang panjang. Iklim di Baluran sangat dipengaruhi oleh arus tenggara yang kuat selama periode April-Oktober/November dan bercurah hujan rendah.

Menurut (klasifikasi) Schmidt dan Ferguson (1951), Taman Nasional Baluran dalam tipe iklim F. Curah hujan rata-rata 900 mm s.d 1.600 mm. Periode kemarau rata-rata 4 s.d. 9 bulan pertahun. Bagian utara dan timur lebih kering daripada bagian selatan dan tenggara. Bagian terbasah adalah lereng selatan dan bagian tertinggi dari pegunungan. Di musim kering, airtawar di permukaan tanah terbatas hanya pada mata air. Pada bulan April air hanya di bagian gunung yang tinggi, yaitu Widuri, Kacip, dan Talpat. Di dataran rendah hanya ada sungai Parerangan, Kecambi Kereb, dan Kepuh di bagian tenggara. Kemudian Gatel di barat laut, Kelokoran dan Bajulmati sepanjang batas dan selatan yang berair sepanjang tahun.

Taman Nasional Baluran memiliki tidak kurang dari 422 jenis flora (± 87 famili). Satu jenis flora langka yang dimiliki adalah kelor wono/dadap biru (Erythrina eudophylla). Di padang savana terdapat sejenis palem (Borassus sp) dan alang-alang (Imperata cylindrica), dan rumput lamuran (Dichantium caricosum). Bila musim kering rumput-rumput itu menjadi kering. Kemudian tumbuh tunas-tunas muda yang tahan api/panas antara lain pilang (Acasia leucophloa), kesambi (Scleichera oleosa) dan bidara cina/widara (Zyzyphus mauritiana). Padang savana ini dapat dijumpai di utara Kacip sampai ke pantai, Bekol, dan Semiang.

Di Taman Nasional Baluran terdapat curah, yaitu alur sungai kering yang ditumbuhi hutan di kedua sisinya dengan tumbuhan merambat. Misalnya gadung (Dioscorea hispida) dan rumput yang hanya sedikit. Hutan musim yang merupakan habitat spesies tumbuhan langka kelor wono/dadap biru dapat dibagi 2 kelompok. Yaitu hutan musim dataran rendah yang banyak ditumbuhi jenis pohon yang selalu hijau. Misalnya bidara cina/widara (Zyzyphus mauritiana), kemplo (Emblica offfcinalis), pilang (Acasia leucophoea), asam (Tamarindus indicus), walikukun (Schoutenia ovata), mimbo (Azadiracha indica), kelampis (Acasia tomentosa), talok (Grewia eriocarpa), dan kesambi (Schleichera oleosa). Sedangkan hutan musim dataran tinggi ditumbuhi pohon kemiri (Aleurites moluccana), gelingsem (Homalium foetidum), laban/bungur/ketangi/ wungur (Lagerstroemia speciosa), dan pancal kijang (Cas­sia fistula) dapat dijumpai di Talpat dan Klosot. Selain itu ada juga pohon yang sangat dikenal oleh pengunjung adalah widoro (Zyziphus rotundifolia). Hutan jati yang luasnya 5.000 ha dapat dijumpai di Bitakol, di bagian sisi barat Baluran.

Di Taman Nasional Baluran dapat dilihat kelompok besar satwa seperti banteng (Bosjazanicus), rusa (Cervus timorensis), kerbau War (Bubalus bubalis), kijang (Muntiacus muntjak), babi hutan (Susverrucosus), ajak (Cuon alpinus), macan tutul (Panthera pardus), kucing bakau (Felis viverrina), kucing hutan (Felis bengalensis), dan linsang (Prionodon linsang). Sepanjang pantai terdapat biawak (Varanus salvator). Jenis ular phyton dan buaya dulu ada dan dinyata-kan punah sejak tahun 1968. Selain itu ada sekitar 147 jenis burung, misalnya walet ekor jarum (Hirundapus caudacutus), wili-wili (Esacus magnirostris), merak (Pavo muticus), dan ayam hutan (Gallus-gallus). Burung kepinis jarum jarang terlihat. Juga banyak ikan bandeng (Chanos chanos) yang disebut juga ikan susu atau dalam bentuk kecilnya “nener”. Ikan itu berada di sepanjang pantai kawasan Taman Nasional Baluran.

Sebagian besar kawasan ini padang savana dengan hewan mamalia dari golongan herbivora,  seperti keadaan di Afrika. kijang dan rusa,  kerbau liar dan macan tutul. Yang penting pengunjung harus memperhatikan petunjuk dan aturan yang berlaku bagi pengunjung di Taman Nasional. Sebaiknya menggunakan jasa petugas jagawana.

Flora yang hanya terdapat di Taman Nasional Baluran ini, yaitu kelor wono/dadap biru (Erythrina eudophylla). Juga daerah pantai dengan pasir putih kekuningan hanya terdapat di pantai utara kawasan tersebut. Terumbu karang antara lain dari jenis Acropora gemmifora, Pontes sp, Montifora foliosa.

Selain itu ada juga bintang laut (Astroidea), timun laut (Holothuriodea), bulu babi (Echinoidea), serta kerang laut seperti Tridacna gigas, Spondylus gaederopus, Pinctada margatifera, Brachidontes sp, Tapes literatus, dan masih banyak lagi jenis-jenis kerang laut tersebut. Untuk itu kita bisa berenang atau bersnokle (Scuba diving) di pantai Bama, Gatal, dan Masigit. Ada juga jenis karang api (Millepora sp) bersama dengan Acropora pada kedalaman 5-6 meter ketika air laut surut. Perairan yang dangkal merupakan tempat mangkal binatang laut tersebut. Mendaki Gunung Baluran dengan menyusuri hutan melalui jalan setapak tidak kalah menyenangkan. Justru kita akan semakin akrab dengan alam. Selain itu menumpang perahu motor menyusuri pantai dari Pandean-Bama – Labuan – Merak – Biji – Gatel, juga merupakan kegiatan yang amat mengasyikkan.

Kegiatan wisata lainnya adalah berjalan kaki melalui jalan setapak dari Padean – Bama – Balanan selama 4 – 6 jam. Kemudian Balanan – Bekol – Kacip – selama 5 – 7 jam. Lalu dari Kacip Klosot – Priuk – Karangtekok selama 4 – 6 jam. Tempat berkemah terdapat di Balanan dan Kacip. Menunggang kuda dapat dilakukan dari Padean – Bekol atau Bekol – Balanan – Labuan Merak – Bilik – Karangtekok. Yang perlu diperhatikan oleh setiap pengunjung adalah makanan harus dibawa oleh pengunjung. Adapun alat- alat memasak tersedia di Bekol.

Rencana menjadikan Baluran sebagai daerah Suaka Margasatwa dicetuskan pertama kali pada tahun 1928. Pada tahun 1937 Baluran dijadikan Suaka Margasatwa dengan luas 25.000 ha. Pada tahun 1980 Baluran diumumkan oleh Menteri Pertanian sebagai Taman Nasional.

Fasilitas yang ada di Taman Nasional Baluran antara lain Pusat Informasi di Batangan. Sebelum memasuki kawasan, pengunjung sebaiknya memasuki Pusat Informasi terlebih dahulu. Di Pusat Informasi ini pengunjung akan mendapat penjelasan singkat melalui multi image sehingga pengunjung bisa memilih objek mana yang akan dikunjungi.

Di dalam kawasan, khususnya di Bekol, terdapat fasilitas antara lain : Pesanggrahan dengan daya tampung (kapasitas) 38 orang, Wisma Tamu, Wisma Peneliti, mushalla, kantin, shelter, menara pandang, MCK, dan tempat parkir.

Sedangkan di pantai Bama terdapat fasilitas berupa Pesanggrahan 3 buah dengan kapasitas 20 orang, shel­ter, MCK, kantin, menara pengintai, dan tempat parkir. Selain itu ada juga jalan setapak (jalan trail) yang disediakan bagi pengunjung yang ingin berjalan kaki di hutan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Achmad Sapari. Mari Mengenal Taman Nasional di Jawa Timur, Galeri Wacana, (Surabaya) Tahun 2001, hlm. 30-37

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s