Wana Wisata dan Situs Bukit Geger, Kabupaten Bangkalan

Wana Wisata dan Situs Bukit Geger Terus Ditata, Diproyeksikan Mendapat Anugerah Wisata 2012

SUASANA berbeda akan dinikmati para pelancong jika kini berkunjung ke kawasan wana wisata (wisata hutan) Bukit Geger di Desa Geger, Kecamatan Geger. Pasalnya, kawasan bukit yang dipadati oleh hamparan hutan produktif seluas 48 hektare, itu kini nampak jauh lebih bersolek, sekaligus menawarkan keamanan yang lebih nyaman pagi para wisatawan pengunjungnya.

Diantaranya, bukit yang juga populer akan kandungan situs sejarahnya, itu kini sudah dileng­kapi deretan tangga dan pagar beton lumayan kokoh. Para pelancong yang mendaki  tidak lagi khawatir terjatuh, sehingga memberi­kan rasa aman dan kenyamanan tersendiri bagi para wisatawan, khususnya bagi para paziarah.

Deretan tangga dibangun dari dasar dan berakhir di puncak bukit. Selain itu, masih ada lagi deretan tangga menuju situs keramat berupa Goa Petapan dan Gua Potre, berikut situs Paleng-gian (tempat duduk dari batu alam- Red) dan makam Potre Koneng di sisi kiri pintu masuk puncak bukit. Panjangnya berkisar 50-60 meter, juga dilengkapi dengan pagar besi, lantaran bersisian dengan jurang yang cukup curam.

Peran dan fungsi tangga dan pagar inipun sama. Yakni untuk memberi­kan keamanan dan rasa nyaman bagi para pengunjung yang ingin berzi­arah. Di depan Goa Petapan dan Goa Potre, juga sudah dibangun sebuah cungkup mini untuk tempat beristi­rahat atau berdzikir para peziarah. Sementara bibir bukit di sisi barat dekat situs Palenggian yang bersi­sian dengan juran teijal, juga sudah dilengkapi oleh pagar pengaman dari besi. Sehingga pengunjung tak njerasa khawatir lagi untuk melihat keeolakan panorama sekitar dari bibir bukit.

Hanya itukah? Ternyata tidak. “Sebab ke arah kanan puncak bukit, juga.sudah dibangun deretan tangga dan jalan paving menem­bus kawasan hutan dan berakhir pada kompleks sejumlah makam keramat di tengah kawasan hutan. Di sisi kanan-kiri jalan ini, juga dibangun empat unit shelter (tem­pat beristirahat) berbentuk joglo tradisional khas Madura.

Dibanding lima Simpulnya, dibanding lima hingga 10 tahun silam, situasi, kondisi dan suasana di kawasan wana wisata Bukit Geger, kini nampak jauh lebih bersolek, sekaligus menawarkan rasa aman dan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjungnya. “Penorama alam di bukit ini indah sekali, setting alamnya mirip-mirip hutan di ka­wasan wana wisata Kakek Bodo di Tretes, Pandaan, Kabupaten Pasuruan,” kesan Laura, reporter Metro-TV Jawa Timur, ketika melakukan liputan di Bukit Geger pada kisaran April 2012 lalu.

Sementara Kabid Pariwisata Dispora Budpar, Drs Amir Syarifudin MM.Pub, mengatakan bahwa sebelum deretan tangga beton itu dibangun pada kisaran 2006-2008 lalu, kondisi Bukit Geger memang tersaji secara alami. Jalan satu-­satunya dari dasar menuju puncak bukit, menurut Amir, hanya berupa jalan setapak selebar kurang lebih setengah meter dan bersisian dengan jurang cukup terjal dan dalam. Jika sedang musim hujan, pengunjung akan rentan terpeleset dan jatuh.

Meski begitu, arus wisatawan domesatik, utamanya para peziarah dari berbagai daerah, seperti dari Cirebon, Banten, Tasik Malaya, Jakarta, Kudus, Pati, Jogyakarta, berikut peziarah dari sebagian besar kabupaten dan kota di Jawa Timur, bahkan juga dari Sumatera, Kalim­antan, Sulawesi dan peziarah dari bebeberapa negara sahabat seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan bahkan Banglades, juga datang mengalir setiap harinya. Malah, tak jarang ada peziarah yang bermalam antara 7-21 hari untuk bertirakat di seputar situ Goa Petapan dan Goa Potre, atau sejumlah makan keramat yang bertebaran di puncak bukit.

Itu sebabnya, mengingat arus kunjungan wisatawan yang terus meningkat, terlebih sikon (siatuasi dan kondisi) ekosistem alam Bukit Geger yang kini semakin bersolek setelah direnovasi, pada akhirnya pihak Dispora Budpar mematok kebijakan cukup simpatik. Jelas­nya, pada tahun ini Wana Wisata Bukit Geger diproyeksikan bisa menyabet anugerah wisata 2012 dari Pemprov Jawa Timur. Usulan dan semua materi tentang keung­gulan Bukit Geger sudah dikirim ke provinsi. Bahkan, para awak JTV sebagai mitra kerja Dinas Pariwisata Jawa Timur, awal Mei 2012 lalu, sudah megambil gam­bar semua keelokan Bukit Geger, termasuk keunikan situs purbakala yang tersebar di dalamnya.

Sarat Eksotika Alam

Wana Wisata Bukit Geger dengan kandungan situs purbakalanya, memang memiliki arti dan makna multi demensional bagi Kabupaten Bangkalan, serta Pulau Madura umumnya. Dari sisi sektor kepari­wisataan daerah, misalnya, kawasan bukit berjarak sekitar 38 km ke arah tenggara dari pusat pemerintahan Kota Bangkalan itu, sarat akan eksotika alam yang menggelitik. Diantaranya, Bukit Geger memiliki hamparan hutan produktif kelolaan Perhutani seluas 48 ha, dengan variasi tanaman pohon kornis, akasia, mahoni, lamtoro gung, jati, serta sebagian kecil sengon laut.

Ba­gusnya, kepadatan pohon di puncak bukit, tertata begitru rapi, sehingga menawarkan keeolakan hutan yang lumayan artistik. Bagusnya, di seantero hutan juga diwarnai oleh aneka ragam spesies binatang, bahkan sebagian tergolong spesies langka dan patut dilindungi. Diantaranya, di kawasan hutan terdapat ribuan kera berkulit abu-abu dengan ekor panjang, selalu berjubel dipintu masuk puncak bukit,

Setiap kali ada rombongan pelancong datang berkunjung.’Tingkah polah monyet cukup bersahabat dengan manusia, mirip dengan prilaku ribuan kera di kawasan wisata Sangeh Bali, atau komunitas kera di Hutan Nepa, Banyuates, Kabupaten Sampang,” kata Amir Syarifudin. Selain kera, ada pula beberapa spesies binatang langka yang patut dilindungi. Diantaranya, sering dijumpai ular pecut (warna hijau panjang), ular bandotan puspa (ular tanah warna hitam), ular python, serta aneka ragam binatang berbisa semacam kala jengking, ketonggeng atau lipan.

Di puncak pepohonan, juga kerap terlihat bererapa spesies burung, diantaranya burung hantu, gagak, elang laut.’Tengunjung, juga sering melihat binatang landak dan musang berbulu coklat. Keunggulan eksotika wana wisata Bukit Geger tidak hanya sebatas itu. Kawasan bukit keramat ini juga kaya situs peninggalan purbakala yang berkait erat dengan asal-muasal nenek moyang Rakyat Madura.

Diantaranya ada situs Pelanggiran. Konon, di areal situs inilah, pada kisaran abad ke 8 silam, orang per­tama di Pulau Madura mendarat di Bukit Geger menggunakan gethek (rakit dari bambu-Red). Mereka adalah Patih Pranggulang dan Dewi Sekar Tanjung, putri dari Raja Gil­ing Wesi di kaki Gunung Semeru, yang dibuang lantaran hamil secara gaib di luar nikah. Dari rahim Dewi Sekar Tanjung yang kemudian pop­uler dengan sebutan Potre Koneng itulah, kemudian lahir putra asli Madura pertama, yang bernama Raden Segara.

Berikutnya, di pucak bukit sisi barat, juga bercokol dua goa kera­mat, masing-masing Goa Petapan dan Goa Potre, yang diyakini sebagai tempat pertapaan Patih Pranggulang dan Dewi Sekar Tanjung. Kedua goa ini, pada kisaran abad ke 13, juga pernah digunakan sebagai tempat perta­paan Adipoday dan Putri Kuning, ayah bunda Kudho Panule alias Jokotole, tokoh legendaris dari Kraton Sumenep.

Di depan kedua goa, ada pula situs makam yang diyakini sebagai kuburan dari Dewi Sekar Tanjung alias Potre Koneng. Sementara sekitar 10 meter di depan goa dan makam, juga ada situs Paleng- gian, yakni onggokan batu alam berbentuk kursi panjang. Konon, situs ini sering digunakan oleh Dewi Sekar Tanjung untuk duduk kongkow-kongkow sambil mena­tap keelokan panorama laut yang dahulu mengitari bukit.

Selain itu, di bibir tebing sisi Selatan, ada pula Goa Pelanangan dan Goa Pancong Pote. Goa Pelanganan ini memiliki keunikan tersendiri, lantaran dari atap goa tersembul sebuah stalaktit pan­jang, yang bentuknya mirip den­gan kelamin pria. “Makanya, goa itu lalu diberi nama Goa Pelanangan (kelamin prioa-Red),” tandas Amir. Di kalangan penduduk seki­tar, ada kepercayaan bahwa lelaki manapun yang meminum tetesan air dari stalaktik untik berbentuk kelamin pria itu, akan memiliki kualitas “kejantanan” yang oke.

Dari bibir jurang di depan Goa Petapan, Goa Potre dan Situs Palenggian itulah, para pelancong bisa menikmati keelokan panora­ma alam yang amat eksotis, lan­taran di dasar bukit, terdapat ham­paran hutan rakyat seluas 1.300 ha lebih yang mengitari semua desa di Kecamatan Geger. Sementara di tengah kawasan hutan, juga terdapat sejumlah situs makam dan mesjid keramat. Di sini, pelancong bisa menikmati padat dan rimbun­ nya kawasan hutan.

Bertitik tolak pada keberagaman eksotika alam dan situs purbakala itulah, adalah hal yang logis jika Pemkab melalui Dispoirabudpar, kemudian menempatkan kawasan wana wisata Bukit Geger sebagai salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Bangkalan. Bahkan kini juga diproyeksikan untuk menerima anugerah wisata 2012. (SA-001)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LENSA MADURA, EDISI 227/VI – TAHUN 2012, hlm. 9

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Wana Wisata dan Situs Bukit Geger, Kabupaten Bangkalan

  1. Coba seandainya dikelola lebih baik lagi, bakal ramai turis untuk berwisata ke bangkalan..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s