Pantai Plengkung, Kabupaten Banyuwangi

Pantai  Plengkung, Surga Peselancar Dunia

Pantai Plengkung tak sekedar elok dipandang mata. Pantai yang lazim disebut “G-Land” ini juga menjadi surge peselancar dunia. Ini karena Plengkung termasuk dalam empat lokasi surfing terbaik di dunia, bahkan disejajarkan dengan pantai Hawai Australia dan Afrika Selatan

G-Land, The Seven Giant Waves Wonder”merupakan Julukan yang diberikan oleh peselancar asing untuk gulungan ombak di pantai Plengkung yang berlokasi di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Banyuwangi, Jawa Timur. Gulungan ombak pantai Plengkung dapat mencapai 4-6 meter.

Bagi wisatawan asing, “G” mempunyai tiga konotasi yg berbeda. Green, karena lokasinya di tepi hutan. Grajagan, merupakan nama jalur terdekat sebelum jalan melintas di hutan, dan Great karena mempunyai ombak terbaik di dunia. Apa pun artinya, itulah julukan bagi sebuah nama lokal bernama Plengkung.

Apapun julukannya, dilihat dari citra satelit, pantai ini bentuknya memang melengkung membentuk huruf G terbalik. Posisi itulah yang membuat ombak setinggi 4-6 meter bisa terbentuk. Para peselancar bisa merasakan sensasi dorongan ombak yang panjang dan susul-menyusul.

Dasar pantai Plengkung, menurut Suharto, Kepala Resor Rawabendo, TNAP, berbentuk landai. Palung hanya ditemukan di sisi barat yang pernah menjadi lokasi pendaratan kapa!. Posisi ini membuat Plengkung nyaman sebagai tempat surfing. Meski demikian, karang di dasar laut patut diwaspadai.

Setiap tahun tidak kurang dari 400-600 wisatawan asing datang berselancar di pantai berpasir putih ini. Mereka bisa menginap selama sepekan. Bahkan berbulan-bulan  di resor-resor dalam hutan.

Menurut Laurenz Sunyoto, Direktur Utama Joyo,s Camp and Surf, wisatawan terbanyak Maret hingga Oktober. Karena saat itulah kondisi ombak pantai selatan meninggi. Biasanya ombak tertinggi pada bulan purnama yang jatuh di pertengahan bulan.

Wisatawan bisa menginap di resor bertarif dollar atau wisma milik TNAP yang letaknya agak jauh dari Plengkung namun bertarif rupiah. Semua resor di Plengkung memanfaatkan kesunyian suasana hutan.

Laurenz  mengatakan, resor mengo- perasikan generator listrik minim suara. Untuk penerang, AC, TV kabel, dan air panas. Setiap hari mereka juga memproduksi roti sendiri dan mengolah makanan lokal, seperti ubi rebus dan talas untuk para peselancar. Dengan rata-rata 100 dollar AS setiap hari, selama minimal tiga hari wisatawan bisa menikmati senyapnya hutan, gulungan ombak, lengkap dengan akomodasi hotel berbintang.

Namun, jika ingin lebih irit, Wisma TNAP di Rawabendo bisa jadi pilihan. Tarifnya hanya Rp 100.000. Warung di area kompleks wisma bisa menjadi pilihan, selain pesan makanan dari wisma. Di tempat inilah wisatawan bisa mengenyam sensasi lain, yakni kieauan burung, perilaku hewan, dan gemerisik gesekan dedaunan.

Untuk menuju Pantai Plengkung dapat melalui jalur laut melalui pulau Bali dan jalur darat dengan menerobos lebatnya TNAP. Perjalanan darat membutuhkan 2-3 jam dari Kota Banyuwangi untuk sampai di gerbang pertama TNAP yang berada di Kecamatan Tegaldlimo.

Bak Payung Raksasa

Sepanjang perjalanan dari gerbang pertama untuk menuju pos Rawabendo, di kanan-kiri jalan terlihat rerimbunan hutan jati yang berjejer bak paying raksasa. Meski waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, hanya sedikit sinar matahari yang mampu menembus lebatnya pohon jati. Akan tetapi, begitu sampai di pos selanjutnya, yakni Pancur, vegetasi hutan hujan tropis pun mulai memberi warna perjalanan ke Pantai Plengkung. Di sini berjejer tumbuhan endemik Alas Purwo. Sebutlah, misalnya, sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). 

Di sepanjang perjalanan juga bisa ditemukan tumbuhan seperti nyamplung (Calophyllum inophyllum), keben (Barringtonia asiatica), ketapang  (Terminalia cattapa), kepuh (Sterculia foetida), dan berbagai jenis bambu.

Untuk melintas hutan, harus memakai mobil double gardan (bergardan ganda) ataufour-wheel drive (4wd) milik TNAP. Mobil ini sanggup melewati jalur yang belum beraspal, berlumpur dan berbatu dari pos Paneur menuju pintu masuk Pantai Plengkung. Biayanya Rp l30.000 per mobil, pergi-pulang.

Suasana hutan yang dihiasi dengan kieauan burung dan keanekaragaman tanaman lebih terasa jika duduk di bak mobil jagawana. Di tempat itu, sudut pandang bisa lebih luas. Jika beruntung bisa menemukan babi hutan yang mencari makan di tepi jalan, atau biawak sebesar komodo yang sedang berjemur di dekat sungai. Tentu saja harus tahan guncangan akibat jalan tak rata sepanjang 15 kilometer. Sampai di gerbang Pantai Plengkung, perjalanan pun disambung dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 200 meter menuju pantai. Di titik pemberhentian itu ada papan kayu penunjuk lokasi resor, seperti Bobby’s Camp atau Joyo’s Camp.

Habitat AsH

Selain pantai Plengkung yang menawarkan ombak tinggi, wisatawan juga bisa mengunjungi tempat-tempat indah di sekitarnya. Sebut saja Sadengan, terletak 12 km dari pintu masuk Pasaranyar dan bisa diakses dari Plengkung sekitar 30 menit. Sadengan merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kanci!, babi hutan dan burung-burung. Kalau beruntung akan menemui satwa-satwa itu dalam habitat aslinya. Kemudian Trianggulasi, terletak 13 km dari pintu masuk Pasaranyar berupa pantai pasir putih dengan formasi hutan pantai untuk kegiatan wisata bahari dan berkemah. Selanjutnya Pantai Ngagelan, terletak 7 km dari Trianggulasi untuk melihat beberapa jenis penyu mendarat untuk bertelur di pantai dan aktivitas penangkaran penyu.

Pantai  Plengkung, Surga Peselancar DuniaAda juga tempat menarik bernama Bedul Segoro Anak. Tempat ini bisa  digunaka bersampan, berenang, ski air di danau dan pengamatan burung migran dari Australia. Setidaknya ada sekitar40 buah tempat yang dapat disebut sebagai goa alam dan buatan, antara lain Goa Jepang dengan dua buah meriam sepanjang 6 meter, Goa Istana, Goa Padepokan dan Gua Macani. Gua ini dapat dicapai dari Pos Pancur sejauh 2 km berjalan kaki.

TNAP juga tempat yg paling banyak dikunjungi untuk tujuan meditasi. Bahkan konon ada yang bertahan 3 tahun. Juga ada Pura Tua di tengah hutan, bernama Giri Seloka yang banyak dikunjungi pada hari suci Pager  Wesi. (fad)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Potensi, EDISI 05 , MEl 2011, hlm 38

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pantai Plengkung, Kabupaten Banyuwangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s