Upacara Tradisional Labuhan di Pantai Ngliyep, Kabupaten Malang

Di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, propinsi Jawa Timur, tewrdapat suatu kegiatan upacara tradisional, Upacara, memberi sesaji kepada penguasa laut Selatan, yang menurut kepercayaan sebagian warga masyarakat setempat ialah Mbok Nyai Ratu Mas, diberi nama Upacara Tradisional “Labuhan”. Pendatang dari daerah lain yang ikut menjadi pendukung upacara tersebut. Sebagian mempunyai kepentingan atau hajat tertentu, dan sebagian membayar nadzar atau sebagai sarana ucapan terima kasih atas terkabulnya hajat mereka.

Upacara Tradisional Labuhan di Pantai Ngliyep di bagi 2 (dua) tahap, kegiatan persiapan dan kegiatan pelaksanaan. Persiapan yang dimaksud disini adalah kegiatan-kegiatan sebelum upacara dimulai, dalam hal ini ada 2 (dua) macam yaitu: kegiatan yang dilakukan oleh pamong desa atau pejabat setempat, dan kegiatan yang dilakukan oleh ahli waris/ keluarga keturunan Mbah Atun beserta warga masyarakat.

v   Kegiatan yang dilakukan oleh pamong desa/pejabat setempat, terlepas dari kegiatan Upacara Labuhan dan umumnya terkait dengan pengembangan wisata, -menyiapkan penampungan pengunjung/penonton upacara, -menyiapkan pertunjukan dan lain sebagainya.

v   Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh ahli waris/keluarga keturunan Mbah Atunbeserta warga masyarakat,. Kegiatan awal yang mereka lakukan, saling mengingatkan bahwa kegiatan Upacara Tradisional Labuhan sudah semakin dekat.,  mencatat yang akan berkorban dan jenis binatang. Kegiatan ini mereka lakukan awal bulan Maulud atau 2 (dua) minggu sebelum pelaksanaan upacara, dan berlangsung sampai dengan malam tirakatan.

Panitia Upacara Tradisional Labuhan adalah ahli waris/keluarga keturunan Mbah Atun secara turun temurun, sudah mendapat kepercayaan penuh dari warga masyarakat setempat untuk mengkoordinir dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan Upacara Tradisional labuhan. Warga masyarakat setempat sebagai pendukung upacara, secara sadar akan memenuhi semua tugas dan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya. Hal ini tentunya dapat dipahami, karena pada umumnya mereka mempunyai suatu kepercayaan, bahwa keterlibatannya di dalam kegiatan Upacara Labuhan itu akan memberikan berkah.Pembiayaan untuk keperluan kegiatan Upacara Labuhan dipikul bersama warga masyarakat setempat dengan sukarela,menyumbangkan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan penyelenggaraan Upacara Labuhan.

Rangkaian kegiatan Upacara Tradisional Labuhan di Pantai Ngliyep itu, dalam pelaksanaannya dapat diperinci sebagai be­rikut: 1). Kegiatan malam tirakatan; 2). Kegiatan memasak dan mempersiapkan sesaji; 3). Kegiatan melabuh sesaji di Pantai Ngliyep; 4). Kegiatan selamatan penutup.

1). Kegiatan Malam Tirakatan. malam hari sebelum diselenggarakan Upacara Tradisional Labuhan, dimulai pada pukul 00.01 tanggal 13 malam tanggal 14 Maulud dan berlangsung hingga fajar menyingsing, kurang lebih pukul 04.30 pagi.

diikuti hampir seluruh peserta upacara. berkumpul di rumah peninggalan Mbah Atun. dipimpin oleh sesepuh/penanggungjawab upacara yaitu Mbah Supangat, semalam suntuk tidak tidur (melekan) disertai memanjatkan do’a, memohon kepada yang Maha Kuasa agar Upacara Labuhan yang akan dilaksanakan esok sorenya berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan suatu apa. sebagian di antara mulai bekerja, khususnya memilah-milah bumbu dan menyiapkan perlengkapan untuk keperluan memasak esok harinya.

2). Memasak dan Mempersiapkan Sesaji  termasuk kegiatan yang cukup penting

Pembakaran kemenyan/dupa oleh pemimpin upacara, di lumbung peninggalan Mbah Atun kurang lebih pukul 05.00, sebagai upaya untuk mengadakan kontak gaib dengan penguasa laut Selatan, Mbok Nyai Ratu Mas. untuk meminta restu, agar kegiatan berjalan dengan lancar, tidak ada halangan. Sekaligus dimulainya kegiatan memasak dan menyiapkan sesaji.

menyusul kegiatan menyembelih korban, memasak dan sekaligus menyiapkan sesaji. kegiatan-kegiatan ini unik dan menarik, karena semua kegiatan tersebut, termasuk memasak, ditangani oleh kaum lelaki. mereka cukup terampil, sehingga semua kegiatan selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

sesaji ada 2 (dua) macam, yaitu sesaji yang akan dilabuh dan sesaji untuk selamatan setelah Upacara labuhan. Sesaji yang akan dilabuh secara garis besar terdiri dari: kepala, kulit, kaki, dan sedikit darah hewan yang dijadikan korban (terutama yang berkaki empat); nasi tumpeng beserta keleng­kapannya; kinangan lengkap; bumbu masak lengkap; dan lain sebagainya. Sedangkan sesaji yang akan digunakan untuk selamatan setelah Upacara Labuhan adalah nasi ambeng beserta lauk-pauknya, termasuk daging korban, baik yang dimasak sate maupun yang dimasak gule.

3. Kegiatan Melabuh Sesaji di Pantai Ngliyep.

Melabuh sesaji di pantai Ngliyep awalnya sederhana. Namun sejak tahun 1979, sejak Pemerintah

Daerah Tingkat II Kabupaten Malang memanfaatkan untuk pengembangan wisata, maka kegiatan melabuh sesaji di Pantai Ngliyep mengalami perkembangan, namun tidak  me­ngurangi sifat sakralnya.

Penambahan acara yang bersifat baru  penyam­butan secara resmi oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Malang yang ditempatkan di Pesanggrahan Khusus. Dalam acara penyambutan ini, Penyambutan oleh  Bupati Kepala Daerah Tk. II Kabupaten Malang atau yang mewakili,  juga dibacakan sejarah ringkas awal mulanya Upacara Labuhan.

Selanjutnya para peserta upacara membawa sajian yang akan dilabuh menuju ke kaki Gunung Kombang untuk mengadakan Upacara Labuhan. Mbah Supangat sebagai pimpinan upacara, segera membakar kemenyan dan memanjatkan do’a atas nama para peserta yang intinya memohon kepada Mbok Nyai Ratu Mas agar korbannya diterima serta mereka diberi keselamatan dan murah rejeki.

Mulailah Mbah Supangat melabuh sesajian ke dalam laut yang diikuti oleh para peserta lainnya, terutama yang ikut berkorban. Maka selesailah kegiatan melabuh sesaji ke Pantai Ngliyep. Selamatan Penutup  menandakan, bahwa rangkaian kegiatan Upacara Tradisional Labuhan telah selesai. Selamatan diikuti oleh semua peserta Upacara Labuhan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  

About Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Upacara Tradisional Labuhan di Pantai Ngliyep, Kabupaten Malang

  1. ada yang tau anak keturunan dari mbah atun gak, atau mbah supangat kalo ada mohon informasinya. trimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s